Scroll untuk baca artikel
Sehat

Influenza Meningkat di Indonesia, Anak dan Lansia Perlu Lebih Diwaspadai

×

Influenza Meningkat di Indonesia, Anak dan Lansia Perlu Lebih Diwaspadai

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi anak dan lansia sebagai kelompok rentan influenza saat kasus H1N1 meningkat di Indonesia
INFLUENZA INDONESIA — Anak dan lansia sebagai kelompok yang perlu mendapat perhatian terhadap influenza. Kemenkes mencatat positivity rate influenza mencapai 46 persen pada Minggu Epidemiologi ke-36 2026, dengan A(H1N1)pdm09 mendominasi sekitar 88 persen kasus positif yang terdeteksi. (Foto/Ilustrasi/Jamlima.com)

  • Kemenkes mencatat positivity rate influenza mencapai 46 persen pada Minggu Epidemiologi ke-36 tahun 2026.
  • Dari 86 kasus positif yang terdeteksi, 76 atau sekitar 88 persen merupakan A(H1N1)pdm09.
  • Anak menjadi kelompok yang menonjol dalam surveilans, terutama usia 0–4 tahun.
  • Meski deteksi influenza meningkat, Kemenkes masih menilai aktivitas influenza berada pada kategori rendah.

JAMLIMA.COM, JAKARTA — Deteksi influenza di Indonesia meningkat pada September 2026, dengan A(H1N1)pdm09 menjadi subtipe yang paling banyak ditemukan dalam surveilans terbaru Kementerian Kesehatan RI.

Laporan Kemenkes yang diperbarui Sabtu (19/9/2026) mencatat positivity rate influenza pada Minggu Epidemiologi ke-36 mencapai 46 persen.

Angka itu meningkat dari 35 persen pada minggu sebelumnya.

Laporan tersebut berjudul pengawasan Minggu ke-37 karena diterbitkan pada periode 13–19 September 2026.

Namun, data utama influenza yang disajikan Kemenkes berasal dari Minggu Epidemiologi ke-36.

Angka 46 persen juga tidak berarti 46 persen penduduk Indonesia terkena influenza.

Persentase tersebut merupakan proporsi hasil positif dari spesimen yang diperiksa melalui sistem surveilans.

Pada Minggu ke-36, sebanyak 185 spesimen diperiksa dan 86 di antaranya terdeteksi positif influenza.

H1N1 Paling Dominan

Dari 86 kasus positif tersebut, sebanyak 76 merupakan influenza A(H1N1)pdm09.

Delapan kasus lainnya merupakan influenza A(H3N2), sedangkan dua kasus terdeteksi sebagai influenza B/Victoria.

Dengan demikian, A(H1N1)pdm09 menyumbang sekitar 88,4 persen dari seluruh spesimen positif influenza yang terdeteksi pada Minggu ke-36.

Persentase tersebut menggambarkan komposisi kasus dalam surveilans pada periode itu.

Angka tersebut bukan berarti 88 persen seluruh penderita influenza di Indonesia sepanjang 2026 terinfeksi H1N1.

WHO menjelaskan A(H1N1)pdm09 merupakan subtipe influenza A yang saat ini beredar pada manusia.

Virus tersebut menyebabkan pandemi pada 2009, kemudian menggantikan virus A(H1N1) sebelumnya.

Bahkan menjadi salah satu virus influenza musiman yang terus bersirkulasi.

Dengan demikian, ditemukannya A(H1N1)pdm09 saat ini tidak dengan sendirinya menunjukkan munculnya pandemi baru.

Anak Jadi Perhatian

Kelompok anak cukup menonjol dalam data Kemenkes.

Sebanyak 42 persen kasus influenza yang terdeteksi pada Minggu ke-36 berasal dari kelompok usia 0–4 tahun.

Sementara itu, pada surveilans Influenza-Like Illness atau ILI di Puskesmas sentinel, kelompok usia 5–14 tahun menyumbang 45 persen.

Data ini khususnya dari seluruh kasus ILI pada minggu yang sama.

Kedua angka tersebut mengukur indikator berbeda.

Angka 42 persen berasal dari distribusi usia kasus influenza yang terdeteksi melalui pemeriksaan laboratorium.

Sedangkan angka 45 persen menggambarkan kelompok usia pasien dengan sindrom ILI di Puskesmas sentinel.

WHO menyebut anak berusia di bawah lima tahun termasuk kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit influenza berat atau komplikasi.

Kelompok risiko lain meliputi ibu hamil, orang berusia 65 tahun ke atas, penderita penyakit kronis, serta orang dengan gangguan sistem imun.

Keparahan Belum Naik

Sinyal peningkatan influenza juga terlihat pada pelayanan kesehatan primer.

Proporsi ILI terhadap seluruh kunjungan di Puskesmas sentinel meningkat dari 0,31 persen menjadi 0,40 persen.

Namun, proporsi Severe Acute Respiratory Infection atau SARI terhadap seluruh rawat inap rumah sakit sentinel justru turun dari 1,54 persen menjadi 1,26 persen.

Di rumah sakit sentinel, proporsi spesimen yang positif influenza meningkat dari 20,4 persen menjadi 31,7 persen.

Sebanyak 63 spesimen diperiksa pada Minggu ke-36 dan 20 dinyatakan positif.

Rinciannya, 16 A(H1N1)pdm09, tiga influenza A(H3) dan satu influenza B/Victoria.

Kemenkes juga mencatat tidak ada kasus influenza positif yang dirawat di ICU pada minggu tersebut.

Data ini menunjukkan peningkatan deteksi influenza belum diikuti kenaikan yang searah pada seluruh indikator penyakit berat.

Kemenkes masih menempatkan tingkat aktivitas influenza dalam kategori rendah.

Pemantauan dilakukan melalui 39 Puskesmas, 35 rumah sakit sentinel dan 14 Balai Karantina Kesehatan.

Karena itu, positivity rate 46 persen tidak dapat digunakan sendirian untuk menyimpulkan Indonesia sedang mengalami wabah influenza berat.

Kawasan Ikut Meningkat

Sinyal peningkatan influenza juga terlihat di kawasan sekitar Indonesia.

Buletin WHO Western Pacific untuk Minggu Epidemiologi ke-35 mencatat positivity influenza regional meningkat dari 13 persen pada Minggu ke-33 menjadi 14 persen.

WHO juga melaporkan aktivitas influenza terus meningkat di zona transmisi Asia Tenggara.

Sedangkan wilayah tersampak terutama di Brunei Darussalam, Kamboja, Malaysia dan Vietnam.

Pola subtipe regional tidak sepenuhnya sama dengan Indonesia.

Pada data regional WHO, influenza A(H3) menyumbang 43,4 persen deteksi, A(H1N1)pdm09 22,4 persen dan B/Victoria 28 persen.

Sementara surveilans Indonesia pada Minggu ke-36 menunjukkan dominasi A(H1N1)pdm09.

Secara global, WHO melaporkan positivity influenza masih berada di bawah 10 persen pada Minggu ke-35.

Namun, WHO juga mencatat A(H1N1)pdm09 dominan di sejumlah wilayah Asia Selatan, Asia Barat dan Asia Tenggara.

Angka global, regional dan Indonesia tidak dapat dibandingkan sebagai prevalensi penduduk.

Hal ini, karena sistem surveilans, populasi yang diperiksa dan jumlah spesimen berbeda.

Kenali Gejala Influenza

WHO menjelaskan influenza musiman sebagai infeksi saluran pernapasan akut akibat virus influenza.

Gejala umumnya muncul mendadak berupa demam, batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, pilek serta rasa lemas.

Sebagian besar orang dapat pulih dalam sekitar satu minggu tanpa membutuhkan perawatan medis khusus.

Namun, penderita dengan gejala berat atau kelompok berisiko perlu mendapatkan penilaian tenaga kesehatan.

Kemenkes menganjurkan masyarakat tetap di rumah saat mengalami gejala flu, menggunakan masker, menerapkan etika batuk dan bersin.

Selain itu, mencuci tangan dengan sabun atau menggunakan hand sanitizer.

Kemenkes juga menganjurkan vaksinasi influenza tahunan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil dan penderita penyakit penyerta.

Masyarakat disarankan mengakses fasilitas pelayanan kesehatan jika gejala memburuk atau tidak membaik setelah lebih dari tiga hari.

Penggunaan antibiotik juga perlu dipahami dengan benar.

WHO menegaskan, Antibiotik tidak efektif melawan virus influenza.

Obat antivirus dapat dibutuhkan pada pasien tertentu, terutama kelompok berisiko atau penderita dengan gejala berat, berdasarkan penilaian tenaga kesehatan.

WHO menyebut terapi antivirus paling bermanfaat bila diberikan sedini mungkin pada kelompok yang membutuhkan.

Data Masih Dinamis

Kemenkes mengingatkan data pada beberapa minggu terakhir masih bersifat sementara.

Data dapat berubah setelah pembaruan dari jejaring laboratorium serta fasilitas kesehatan.

Karena itu, perkembangan pada minggu berikutnya diperlukan untuk menilai apakah peningkatan September berlanjut, melandai atau berubah pola.

Data terbaru memberi alasan bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan tanpa panik.

Surveilans Kemenkes menunjukkan influenza semakin banyak terdeteksi dan A(H1N1)pdm09 mendominasi spesimen positif pada Minggu ke-36.

Namun, hingga laporan 19 September 2026, aktivitas influenza masih berada pada kategori rendah.

Termasuk belum disertai peningkatan seragam pada indikator penyakit berat.