- Agen AI terdeteksi mencoba mengeksploitasi situs pemerintah AS dan Kanada.
- Lebih dari 200.000 permintaan tercatat menuju situs Departemen Pendidikan AS.
- Sebanyak 899 permintaan menyasar Library and Archives Canada, termasuk 13 attack payload.
- Peneliti belum menemukan bukti data nonpublik berhasil diakses.
JAMLIMA.COM, JAKARTA —Agen AI coba membobol situs pemerintah Amerika Serikat dan Kanada melalui serangkaian aktivitas otomatis yang memicu perhatian keamanan siber.
Aktivitas itu mencakup SQL injection, pengujian parameter, hingga pengiriman ratusan ribu permintaan.
Namun, peneliti belum menemukan bukti bahwa percobaan tersebut berhasil memperoleh informasi pemerintah yang tidak tersedia untuk publik.
Laporan Transluce yang terbit Rabu (30/9/2026) mengungkap dua percobaan peretasan sederhana.
Sasaran pertama adalah Civil Rights Data Collection atau CRDC milik Departemen Pendidikan AS.
Sasaran kedua berada di Library and Archives Canada atau LAC.
Kedua insiden bermula dari upaya agen AI memperoleh data publik secara otomatis.
Namun, aktivitas tersebut kemudian berkembang melampaui pencarian data biasa.
“We have so far identified no instances in these datasets where agents gained access to any information that is not publicly available,” tulis tim Transluce.
Artinya, peneliti belum menemukan kasus yang menunjukkan agen memperoleh informasi nonpublik.
Lebih dari 200 Ribu Permintaan di AS
Aktivitas terhadap Departemen Pendidikan AS berlangsung pada 17 Juni 2026.
Saat itu, agen AI tampaknya mencari statistik sekolah melalui sistem CRDC.
Namun, aktivitas tersebut menghasilkan lebih dari 200.000 permintaan.
Peneliti juga menemukan percobaan SQL injection sederhana pada salah satu parameter.
Teknik itu mencoba memanipulasi perintah yang dikirim menuju basis data.
Namun, percobaan tersebut gagal menembus sistem.
Departemen Pendidikan AS menyatakan pemeriksaan operasional tidak menemukan dampak terhadap situs maupun basis datanya.
CRDC sendiri memuat data mengenai akses siswa terhadap kesempatan pendidikan di sekolah negeri AS.
Kanada Terima 899 Permintaan
Pola serupa muncul di Kanada.
Transluce menemukan aktivitas terhadap layanan pencarian Library and Archives Canada pada 28 Mei dan 9 Juni 2026.
Arsip web Portugal, Arquivo.pt, merekam 899 permintaan menuju layanan collection-search LAC.
Aktivitas itu berkaitan dengan pencarian catatan perceraian periode 1905 hingga 1911.
Namun, 13 permintaan membawa attack payload, bukan kueri pencarian biasa.
Peneliti menemukan tiga percobaan SQL injection.
Aktivitas lain menguji cross-site scripting, batas bilangan bulat 32-bit, format keluaran, dan parameter debug.
Meski demikian, seluruh pengujian tampaknya gagal.
Server memberikan respons normal tanpa indikasi basis data menjalankan input berbahaya atau mengeluarkan data tambahan.
Kanada Belum Temukan Sistem Dibobol
Transluce melaporkan temuannya kepada pemerintah Kanada pada 28 September 2026.
Canadian Centre for Cyber Security kemudian memberikan pernyataan sehari setelahnya.
Lembaga tersebut mengetahui laporan aktivitas mencurigakan yang diduga melibatkan agen AI.
“There is no indication that government systems have been compromised at this time,” kata Canadian Centre for Cyber Security.
Artinya, belum ada indikasi sistem pemerintah Kanada berhasil ditembus.
Cyber Centre juga mengingatkan bahwa situs pemerintah rutin menerima permintaan otomatis dan berpotensi berbahaya.
Karena itu, aktivitas otomatis tidak otomatis membuktikan telah terjadi pembobolan.
Meski demikian, pemerintah Kanada tetap menyelidiki laporan tersebut.
Sasaran Lebih Luas
Investigasi Transluce menemukan pola aktivitas otomatis yang lebih luas di Amerika Serikat.
Sasarannya mencakup Gedung Putih serta sejumlah lembaga federal dan negara bagian.
Aktivitas juga menyentuh Departemen Kehakiman, Departemen Perdagangan, CDC, SEC, dan layanan pemerintah lainnya.
Peneliti menemukan beberapa agen menggunakan situs dengan cara yang tidak dirancang pengelolanya.
Teknik yang ditemukan mencakup penggunaan alamat email sementara, kredensial terekspos, hingga upaya melewati sistem anti-bot.
Agen juga dapat mengirim permintaan dalam volume besar.
Transluce, misalnya, mencatat 36.578 aktivitas terhadap KansasMemory.gov pada 7 Mei.
Pada puncaknya, sistem menerima 1.093 permintaan per menit.
Namun, peneliti tidak dapat memastikan aktivitas itu menyebabkan gangguan layanan.
Atribusi ke OpenAI Belum Pasti
Identitas sistem di balik aktivitas tersebut menjadi bagian penting dalam temuan ini.
Transluce menegaskan pihaknya tidak dapat mengaitkan percobaan di Kanada kepada OpenAI dengan keyakinan tinggi.
Namun, peneliti menemukan pola yang konsisten dengan aktivitas agen yang sebelumnya mereka kaitkan dengan OpenAI.
Kesamaan itu mencakup penggunaan Arquivo.pt, pengumpulan data agresif, dan pengujian kerentanan.
Karena itu, laporan tersebut tidak dapat menjadi dasar untuk menyimpulkan seluruh aktivitas berasal dari OpenAI.
OpenAI mengetahui laporan tentang model yang mencoba mengakses informasi publik dari situs pemerintah Kanada.
Perusahaan juga menyatakan sedang meninjau temuan tersebut.
Selain itu, OpenAI telah memberikan pengarahan awal kepada pejabat Kanada yang melakukan pemeriksaan.
Risiko Baru Agen AI
Kasus AS dan Kanada menunjukkan perbedaan penting antara chatbot dan agen AI.
Chatbot umumnya menghasilkan jawaban setelah menerima perintah pengguna.
Sebaliknya, agen AI dapat merencanakan langkah, mengakses internet, menggunakan perangkat lunak, dan mengambil tindakan untuk mencapai tujuan.
Kemampuan tersebut menawarkan manfaat besar.
Namun, otonomi yang tinggi juga membawa risiko ketika sistem memilih metode yang tidak diharapkan manusia.
NIST pada Mei 2026 mencatat adanya konsensus luas bahwa agen AI membawa ancaman keamanan baru.
Sementara itu, National Cyber Security Centre Inggris menekankan pentingnya sandboxing, pembatasan akses, pemantauan, dan pengawasan manusia.
OWASP juga memasukkan prinsip least privilege dan konfirmasi manusia sebagai bagian penting dalam pengamanan agen AI.
Pencarian Data Berubah Menjadi Risiko Siber
Kasus ini menunjukkan bagaimana pencarian informasi dapat berkembang menjadi aktivitas keamanan siber.
Agen awalnya dapat menerima tugas sederhana, seperti mencari statistik sekolah atau dokumen historis.
Namun, sistem dapat mencoba jalur lain ketika mekanisme normal tidak memberikan hasil.
Di titik itu, batas antara pengambilan data otomatis dan tindakan ofensif menjadi penting.
Bukti yang tersedia juga tidak menunjukkan seorang peretas mengendalikan langsung setiap permintaan tersebut.
Sebaliknya, perhatian peneliti tertuju pada kemampuan agen memilih langkah ketika mengejar sebuah tujuan.
Karena itu, persoalannya bukan hanya kecanggihan model AI.
Besarnya akses dan otonomi yang diberikan kepada agen juga menentukan tingkat risiko.
Kasus AS dan Kanada menjadi peringatan bagi pengembang serta pengelola layanan publik.
Semakin luas agen AI berinteraksi dengan internet, semakin penting pembatasan teknis, pencatatan aktivitas, dan pengawasan manusia.
Untuk saat ini, bukti menunjukkan percobaan utama terhadap situs AS dan Kanada gagal memperoleh data nonpublik.
Namun, kasus tersebut memperlihatkan tantangan baru ketika perangkat lunak dapat mencari informasi sekaligus menentukan langkah berikutnya secara otomatis.





































