- 1.100 warga terdampak. Banjir lahar dan longsor melanda Lumajang, Jawa Timur, setelah hujan deras mengguyur kawasan Gunung Semeru.
- Rumah warga rusak. Tiga rumah mengalami kerusakan pada teras, sedangkan 10 rumah lainnya terancam. Banjir juga menggenangi permukiman hingga 60 sentimeter.
- 117 KK terisolasi. Jalan sepanjang sekitar 100 meter terputus. Jembatan penghubung Malang–Lumajang juga tidak dapat dilalui kendaraan.
- Ancaman belum berakhir. Gunung Semeru berstatus Level III atau Siaga. Petugas memantau sungai dan memperingatkan potensi banjir lahar susulan.
JAMLIMA.COM, LUMAJANG — Banjir lahar Gunung Semeru menerjang permukiman warga di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Senin (2/11/2026).
Bencana yang disertai banjir dan longsor itu berdampak pada sekitar 1.100 warga di Kecamatan Tempursari dan Jatiroto.
Derasnya aliran sungai juga merusak rumah, menjebol tanggul, dan memutus akses transportasi.
Akibatnya, sebanyak 117 kepala keluarga (KK) di Dusun Tamansari, Kecamatan Tempursari, terisolasi.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mencatat kerusakan tersebut setelah hujan deras mengguyur kawasan Semeru sejak Minggu malam.
Bencana ini tidak hanya mengancam rumah warga. Kerusakan jalan dan jembatan juga berpotensi menghambat evakuasi serta distribusi bantuan.
Hujan Deras Picu Banjir Lahar Semeru
Hujan lebat mengguyur sejumlah wilayah Lumajang sejak Minggu (1/11/2026) sekitar pukul 22.00 WIB.
Sementara itu, Pos Pengamatan Gunung Semeru mencatat hujan di kawasan gunung mulai sekitar pukul 23.40 WIB.
Air hujan kemudian mengangkut endapan material vulkanik melalui sungai yang berhulu di Semeru.
Peningkatan debit menyebabkan sejumlah sungai meluap hingga memasuki permukiman.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Agastya Rajendra, melaporkan getaran banjir selama enam jam.
“Pada periode pengamatan Senin pukul 00.00-06.00 WIB tercatat satu kali gempa getaran banjir dengan amplitudo 65 mm dan lama gempa 21.600 detik atau enam jam,” kata Agastya dalam laporan tertulis.
Selama periode tersebut, petugas juga mencatat 14 gempa letusan atau erupsi dan satu gempa guguran.
Amplitudo 65 milimeter menunjukkan besarnya getaran pada alat pemantauan, bukan ketinggian banjir.
Rumah Rusak, 1.100 Warga Terdampak
BPBD Jawa Timur mencatat sekitar 1.100 warga terdampak berdasarkan laporan Senin pukul 09.30 WIB.
Sebanyak 600 warga terdampak di Kecamatan Tempursari. Sementara itu, sekitar 500 warga lainnya terdampak di Kecamatan Jatiroto.
Di Desa Rojopolo, Kecamatan Jatiroto, banjir menggenangi Dusun Persil.
Genangan meliputi RW 09, RW 10, dan RW 11 dengan ketinggian air sekitar 20–60 sentimeter.
Selain merendam permukiman, banjir juga menggerus tanah di sekitar bangunan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Lumajang, Yudhi Cahyono, membenarkan kerusakan tersebut.
“Dampak sementara terdapat 3 rumah dengan teras ambruk dan 10 rumah yang terancam mengalami kerusakan pada bagian teras,” kata Yudhi kepada detikJatim, Senin.
Petugas masih mendata kerusakan serta memantau bangunan yang berada dekat aliran sungai.
Jalan Putus, 117 KK Terisolasi
Dampak serius lainnya terjadi di Kecamatan Tempursari.
Banjir memutus jalan Purorejo–Tamansari Bawah sepanjang sekitar 100 meter.
Kerusakan tersebut menyebabkan akses menuju permukiman terganggu.
BPBD Jawa Timur mencatat sebanyak 117 KK di Dusun Tamansari terisolasi.
Selain itu, peningkatan debit Sungai Glidik melumpuhkan jembatan penghubung Kabupaten Malang dan Lumajang.
Kepala BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, memastikan kendaraan tidak dapat melintasi jembatan tersebut.
“Jembatan penghubung Malang–Lumajang tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat,” kata Gatot dalam laporan tertulis.
Warga Desa Purorejo, Sudibyo, juga melaporkan air telah melampaui permukaan jembatan limpas.
“Untuk jembatan limpas, untuk sementara tidak bisa dilalui karena air sudah di atas jembatan,” ujarnya.
Kerusakan akses ini menjadi tantangan dalam penanganan darurat.
Jalan yang terputus dapat menghambat pengiriman logistik, pelayanan kesehatan, dan evakuasi apabila terjadi banjir susulan.
Tanggul Jebol dan Longsor Ganggu Akses
Banjir juga merusak tanggul di wilayah Wareng, Dusun Pasirejo, Desa Purorejo.
Sementara itu, luapan Sungai Rawaan menggenangi Desa Tempursari.
Sungai Dol juga meluap hingga menyebabkan banjir di Dusun Umbulrejo dan Dusun Umbulsari.
Di Kecamatan Pasirian, tanggul Sungai Regoyo di Desa Gondoruso mengalami kerusakan.
Bencana turut memicu longsor di jalan tembus Tamansari–Iburaja, Desa Kaliuling.
Di wilayah Halimo, Dusun Iburaja, longsor disertai pohon tumbang mengganggu akses jalan.
Kerusakan di berbagai lokasi menunjukkan luasnya dampak hujan deras di kawasan Semeru.
Masyarakat tidak hanya menghadapi banjir lahar, tetapi juga longsor dan kerusakan infrastruktur.
Aliran Lahar Mendekati Rumah Warga
Banjir lahar menimbulkan kekhawatiran masyarakat yang tinggal dekat bantaran sungai.
M Rokhim, warga Kecamatan Tempursari, mengatakan air membawa material vulkanik hingga memasuki kawasan permukiman.
“Kalau daerah permukiman dataran rendah sudah penuh air, tapi yang dataran tinggi aman mas,” katanya kepada CNN Indonesia.
Sementara itu, Sudibyo melaporkan aliran lahar di kawasan Purorejo mendekati rumah warga.
“Untuk banjir lahar sudah berjarak sekitar 5 meter dari rumah warga,” ujarnya.
Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya kewaspadaan terhadap perubahan aliran sungai.
Selain genangan, gerusan tanah dapat mengancam fondasi rumah yang berada dekat bantaran.
BPBD Lakukan Penanganan Darurat
BPBD Jawa Timur bersama BPBD Lumajang mengerahkan personel untuk memantau kawasan terdampak.
Petugas mendata kerusakan rumah, jalan, jembatan, serta tanggul.
Mereka juga mengidentifikasi kebutuhan warga dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah.
“Personel BPBD Provinsi Jawa Timur bersama BPBD Kabupaten Lumajang melakukan penanganan darurat, pemantauan lokasi terdampak, serta pendataan kerusakan dan kebutuhan warga,” kata Gatot.
BPBD turut berkoordinasi dengan pemerintah desa, PLN, dan instansi terkait.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga menyiapkan bantuan semen dan bata untuk pemulihan bangunan.
Namun, perbaikan harus mempertimbangkan kondisi sungai dan keselamatan petugas.
Dalam laporan BPBD Jawa Timur yang diberitakan Senin siang, terdapat informasi mengenai korban meninggal yang telah dievakuasi dan dimakamkan masyarakat.
Meski demikian, jumlah dan identitas korban belum dirinci dalam laporan tersebut.
Karena itu, angka korban meninggal belum dapat dipastikan berdasarkan informasi yang tersedia.
Semeru Berstatus Siaga, Warga Diminta Waspada
Gunung Semeru masih berada pada Level III atau Siaga.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan pembatasan aktivitas di sejumlah kawasan berbahaya.
Masyarakat dilarang beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga 13 kilometer dari puncak.
Di luar jarak tersebut, larangan berlaku dalam jarak 500 meter dari tepi Sungai Besuk Kobokan.
Pembatasan ini berkaitan dengan potensi perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak.
PVMBG juga melarang aktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah karena ancaman lontaran batu pijar.
Selain Besuk Kobokan, masyarakat perlu mewaspadai aliran Besuk Bang, Besuk Kembar, Besuk Sat, serta anak sungai yang berhulu di Semeru.
Petugas meminta masyarakat menjauhi jalur lahar, terutama ketika hujan mengguyur kawasan puncak.
Mitigasi Bencana Jadi Kunci Keselamatan
Banjir lahar Semeru memperlihatkan pentingnya mitigasi yang menjangkau permukiman hingga jalur transportasi.
Ancaman dapat meningkat ketika hujan deras turun di kawasan hulu, meskipun cuaca di permukiman terlihat lebih tenang.
Karena itu, peringatan dini perlu menghubungkan informasi cuaca, pemantauan sungai, dan komunikasi kepada masyarakat.
Pertama, memperkuat sistem peringatan dini.
Petugas perlu segera menyampaikan informasi peningkatan debit sungai kepada warga melalui pemerintah desa dan jaringan komunikasi setempat.
Kedua, memastikan jalur evakuasi tersedia.
Kerusakan jalan dan jembatan menunjukkan pentingnya akses alternatif, terutama bagi permukiman yang bergantung pada satu jalur utama.
Ketiga, menghindari aktivitas di sungai berbahaya.
Masyarakat tidak boleh mendekati aliran lahar untuk melihat, merekam, atau melintasinya.
Penambang pasir dan pengemudi angkutan material juga harus mengikuti pembatasan aktivitas.
Keempat, memprioritaskan kelompok rentan.
Anak-anak, lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, dan warga yang membutuhkan perawatan medis perlu mendapat prioritas saat evakuasi.
Kelima, memeriksa keamanan rumah dan jembatan.
Bangunan yang mengalami gerusan tanah membutuhkan pemeriksaan sebelum kembali digunakan.
Langkah mitigasi tersebut perlu mengikuti perkembangan kondisi lapangan dan arahan petugas berwenang.
Mengapa Banjir Lahar Semeru Berbahaya?
Banjir lahar hujan berbeda dari banjir biasa.
Aliran ini membawa campuran air, pasir, batu, dan endapan material vulkanik dari lereng gunung.
Ketika hujan deras turun, material tersebut dapat bergerak melalui sungai dengan arus kuat.
Batu dan batang kayu yang terbawa aliran mampu menghantam rumah, tanggul, serta jembatan.
Arus juga dapat menggerus tanah di sekitar fondasi bangunan.
Karena itu, warga tidak boleh menganggap jembatan aman hanya karena strukturnya masih terlihat berdiri.
Pemeriksaan diperlukan setelah jembatan mengalami hantaman material atau gerusan sungai.
Jalur Evakuasi Menjadi Perhatian
Hingga laporan Senin siang, petugas masih memantau perkembangan debit sungai dan potensi kejadian susulan.
Pendataan kerusakan juga terus berlangsung.
Banjir lahar Semeru pada 2 November 2026 menunjukkan bahwa ancaman gunung api dapat meluas melalui jaringan sungai.
Kerusakan rumah menjadi dampak langsung yang terlihat.
Namun, putusnya jalan dan terisolasinya warga menghadirkan risiko tambahan dalam penanganan darurat.
Karena itu, mitigasi tidak cukup hanya berfokus pada aktivitas gunung.
Peringatan dini, jalur evakuasi yang aman, dan perlindungan permukiman juga menentukan keselamatan warga.
Baca juga: Rp435,3 Miliar Mengalir ke 6 Daerah, Ini Peta Bantuan Pascabencana Sumatera





































