- Lima istri jurnalis Korban Anak Kratau menerima piagam penghargaan dan tali asih dalam Anugerah Dewan Pers 2026.
- Dedi Mulyadi menambah bantuan Rp50 juta per keluarga, dengan total Rp250 juta.
- Lima jurnalis hilang bersama tiga orang lainnya di Selat Sunda sejak 7 September 2026.
- Polisi telah mengidentifikasi satu awak kapal melalui DNA. Tujuh orang lainnya belum ditemukan.
JAMLIMA.COM, JAKARTA — Lima istri jurnalis menerima penghargaan ketika nasib suami mereka masih belum diketahui.
Penyerahan berlangsung dalam Anugerah Dewan Pers 2026 di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Rabu (28/10/2026) malam.
Hari itu tepat 51 hari sejak kapal Arupadhatu I hilang kontak di perairan Selat Sunda.
Tangis mengiringi penyerahan piagam penghargaan dan tali asih. Rodiyah Nasution, istri jurnalis iNews Yudistiro Pranoto, terlihat mengusap air mata.
Penghargaan Belum Mengakhiri Penantian
Desi Purnama Sari, istri jurnalis ANTARA Muhammad Bagus Khoirunnas, menyampaikan terima kasih atas perhatian berbagai pihak.
Namun, ia masih berharap ada kepastian mengenai keberadaan suaminya bersama empat rekan jurnalis.
“Tolong selalu doakan suami-suami kami agar dapat kembali dalam keadaan apa pun,” ujar Desi.
Kelima jurnalis tersebut ialah Muhammad Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka, dan Yudistiro Pranoto dari iNews.
Dua lainnya adalah Firman Daus dari Anadolu Agency serta Donal Husni, jurnalis foto lepas.
Anggota Dewan Pers Maha Eka Swasta turut menyampaikan harapan bagi keluarga.
“Semoga keluarga mereka senantiasa diberikan kekuatan dan ketabahan,” katanya.
Dedi Mulyadi Tambah Bantuan Rp250 Juta
Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat menyampaikan bahwa Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan tambahan Rp50 juta kepada setiap keluarga.
Dengan demikian, total tambahan bantuan tersebut mencapai Rp250 juta untuk lima keluarga.
Nominal itu terpisah dari tali asih Dewan Pers yang jumlahnya tidak dirinci dalam laporan acara.
Sebelumnya, BAZNAS dan sejumlah BUMN juga menyalurkan bantuan bagi keluarga rombongan Arupadhatu I.
Satu Awak Teridentifikasi, Tujuh Masih Hilang
Arupadhatu I bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, Senin (7/9/2026).
Kapal membawa lima jurnalis, nakhoda Warta, awak Surakman, dan pemandu Heriyanto untuk peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau.
Tim SAR mengakhiri operasi pencarian khusus pada 17 September setelah berlangsung sepuluh hari.
Meski demikian, Basarnas tetap berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menindaklanjuti informasi baru.
Pada 23 September, Polda Banten memastikan jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, merupakan Surakman.
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri memastikan identitasnya melalui pemeriksaan DNA.
Dengan demikian, tujuh orang masih belum ditemukan, termasuk kelima jurnalis.
Keselamatan Jurnalis Jadi Perhatian
Dewan Pers sebelumnya meminta perusahaan media memprioritaskan keselamatan wartawan, terutama saat meliput bencana.
Selain itu, ANTARA menggelar pelatihan keselamatan jurnalis pada 17 Oktober 2026 untuk memperkuat mitigasi risiko lapangan.
Bagi lima keluarga Arupadhatu I, penghargaan menjadi pengakuan atas pengabdian orang-orang yang mereka cintai.
Namun, hingga malam Anugerah Dewan Pers berakhir, mereka masih menunggu kepastian keberadaan para jurnalis yang belum kembali.
Baca juga: ABK Arupadhatu 1 Teridentifikasi di Enggano, Mengapa Speedboat Belum Ditemukan?





































