Scroll untuk baca artikel
Internasional

Tiga Tahun Tersisih, Rudal Hipersonik AS Bangkit Lewat Kontrak Rp12,6 Triliun

×

Tiga Tahun Tersisih, Rudal Hipersonik AS Bangkit Lewat Kontrak Rp12,6 Triliun

Sebarkan artikel ini
rudal hipersonik as agm-183a produksi lockheed martin
RUDAL HIPERSONIK AS — Ilustrasi AGM-183A yang memasuki tahap produksi setelah Angkatan Udara Amerika Serikat memberikan kontrak senilai Rp12,6 triliun kepada Lockheed Martin, Oktober 2026. (Foto: Ilustrasi/Jamlima.com)

  • Kontrak produksi: Amerika Serikat memesan rudal hipersonik AGM-183A melalui kontrak senilai 694 juta dolar AS atau sekitar Rp12,6 triliun.
  • Perubahan kebijakan: Angkatan Udara AS sempat menghentikan rencana pembelian setelah program menghadapi kegagalan pengujian pada 2023.
  • Teknologi serangan: Rudal AGM-183A menggunakan teknologi boost-glide dengan kecepatan lebih dari Mach 5.
  • Kesiapan produksi: Lockheed Martin memperluas pabrik di Alabama. Namun, jumlah rudal dan jadwal pengiriman belum diumumkan.

JAMLIMA.COM, WASHINGTON — Amerika Serikat kembali memesan rudal hipersonik yang sempat kehilangan dukungan pengadaan tiga tahun lalu.

Angkatan Udara AS memberikan kontrak senilai 694 juta dolar AS kepada Lockheed Martin untuk memproduksi rudal AGM-183A.

Nilainya mencapai sekitar Rp12,6 triliun berdasarkan kurs JISDOR Bank Indonesia pada 27 Oktober 2026.

Kontrak berlaku sejak 29 September 2026. Namun, militer AS baru mengumumkannya pada Senin (26/10/2026).

Sehari kemudian, Lockheed Martin mengonfirmasi kesepakatan tersebut.

Keputusan ini menandai kebangkitan program persenjataan yang sempat menghadapi ketidakpastian akibat kegagalan pengujian.

Rudal Hipersonik AS Kembali Setelah Tiga Tahun

Program AGM-183A Air-Launched Rapid Response Weapon (ARRW) dimulai pada 2018.

Lockheed Martin mengembangkannya sebagai senjata serangan cepat dari pesawat pengebom.

Namun, beberapa pengujian awal gagal memenuhi sasaran.

Pada Maret 2023, Angkatan Udara AS menyatakan tidak berencana membeli ARRW setelah pengembangan prototipe.

Militer kemudian memprioritaskan program Hypersonic Attack Cruise Missile (HACM).

Meski begitu, pengujian ARRW tetap berlangsung untuk mengumpulkan data teknis.

Arah kebijakan berubah pada 2025. Angkatan Udara AS kembali mengusulkan pendanaan pembelian ARRW untuk tahun fiskal 2026.

Kini, kontrak terbaru membawa program tersebut menuju produksi.

Melaju Mach 5, Diluncurkan dari Pesawat Pengebom

AGM-183A menggunakan teknologi boost-glide yang menggabungkan pendorong roket dan kendaraan luncur hipersonik.

Roket mempercepat senjata hingga melampaui Mach 5 atau lima kali kecepatan suara.

Selanjutnya, kendaraan luncur terpisah dan bermanuver menuju sasaran.

Teknologi ini dirancang untuk menyerang target strategis dalam waktu singkat.

Angkatan Udara AS menyiapkan pesawat B-52H Stratofortress sebagai platform peluncuran utama.

Selain itu, pengembangan ARRW juga melibatkan pengujian menggunakan B-1B Lancer.

Namun, kecepatan tinggi tidak otomatis membuat rudal mustahil dicegat.

Efektivitasnya tetap bergantung pada lintasan, sistem pertahanan lawan, dan kemampuan operasional.

Pentagon Sebut Titik Balik Persenjataan

Menteri Angkatan Udara AS Troy Meink menilai kontrak tersebut sebagai perubahan penting.

“Ini merupakan titik balik dalam peta jalan persenjataan canggih kami,” kata Meink dalam pernyataan resmi, Senin (26/10/2026).

Terjemahan dari pernyataan berbahasa Inggris.

Menurut Meink, ARRW akan memperkuat kemampuan serangan cepat terhadap sasaran yang dilindungi sistem pertahanan canggih.

Sementara itu, Kepala Staf Angkatan Udara AS Jenderal Ken Wilsbach menekankan fleksibilitas penggunaan senjata tersebut.

Ia menyatakan ARRW memberikan pilihan respons cepat bagi operasi militer di wilayah dengan pertahanan kuat.

Lockheed Martin Perluas Pabrik Rudal

Lockheed Martin mulai memperluas fasilitas produksi Building P-20 di Troy, Alabama, Selasa (27/10/2026).

Perluasan tersebut menambah ruang produksi sekitar 47.000 kaki persegi atau 4.370 meter persegi.

Dengan proyek itu, luas fasilitas produksi ARRW akan meningkat menjadi tiga kali kapasitas sebelumnya.

Perusahaan juga telah menginvestasikan 67 juta dolar AS untuk perluasan fasilitas dan peralatan produksi.

Presiden Lockheed Martin Missiles and Fire Control Tim Cahill menyatakan kontrak ini menunjukkan kesiapan perusahaan memproduksi teknologi persenjataan mutakhir.

Menurutnya, ARRW akan memperluas kemampuan serangan hipersonik Angkatan Udara AS.

Kontrak Triliunan, Jumlah Rudal Dirahasiakan

Meski kontrak telah berlaku, Pentagon belum mengungkap jumlah rudal yang dipesan.

Militer AS juga merahasiakan jadwal pengiriman dengan alasan keamanan operasional.

Karena itu, nilai Rp12,6 triliun merupakan keseluruhan kontrak, bukan harga satu rudal.

Pengumuman produksi juga belum membuktikan bahwa senjata telah siap digunakan dalam pertempuran.

Kebangkitan ARRW memperlihatkan perubahan prioritas pertahanan AS.

Program yang sempat tersisih kini kembali mendapat dukungan produksi.

Meskipun kemampuan tempurnya masih menunggu pembuktian operasional.


Baca juga: Jejak Klaim Donald Trump atas Selat Hormuz, Iran Tegaskan Jalur Strategis Itu Bukan Milik AS