- Demonstrasi anti-Netanyahu di Tel Aviv pada 24 Oktober 2026 menuntut penyelidikan independen atas serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
- Pemilu Israel berlangsung Selasa (27/10/2026), dengan lebih dari 7,33 juta warga terdaftar sebagai pemilih.
- Partisipasi mencapai 55,7 persen hingga pukul 16.00 waktu Israel, tertinggi untuk jam tersebut sejak 1973.
- Netanyahu menghadapi persaingan ketat dengan oposisi. Hasil pemilu dan pembentukan koalisi belum dapat dipastikan.
JAMLIMA.COM, TEL AVIV — Gelombang demonstrasi menentang Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memasuki babak politik baru.
Jutaan warga Israel menggunakan hak suara dalam pemilu parlemen, Selasa (27/10/2026).
Pemungutan suara berlangsung tiga hari setelah demonstrasi besar di Tel Aviv.
Aksi itu menuntut pertanggungjawaban pemerintah atas kegagalan keamanan dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Kali ini, perhatian beralih dari jalanan menuju tempat pemungutan suara.
Komite Pemilihan Pusat Israel melaporkan partisipasi mencapai 55,7 persen hingga pukul 16.00 waktu setempat.
Lebih dari empat juta warga telah memilih. Angka itu melampaui tingkat partisipasi 47,5 persen pada jam yang sama dalam pemilu 2022.
Demonstrasi Besar Menjelang Pemilu
Sebelumnya, massa memadati Hostages Square di Tel Aviv, Sabtu (24/10/2026).
Kelompok October Council mengorganisasi demonstrasi tersebut.
Organisasi ini menghimpun keluarga korban, penyintas, dan mantan sandera serangan Hamas.
Penyelenggara memperkirakan lebih dari 100.000 peserta menghadiri aksi.
Namun, kepolisian Israel tidak menerbitkan perkiraan resmi jumlah demonstran.
Massa mendesak pembentukan komisi penyelidikan negara untuk mengungkap kegagalan keamanan pada 7 Oktober 2023.
Mali Zender, ibu dari seorang korban serangan Hamas, menegaskan bahwa demonstrasi tidak bertujuan mendukung satu kandidat tertentu.
“Saya tidak meminta Anda memilih satu kandidat atau kandidat lainnya,” kata Zender.
Ia meminta warga menggunakan hak suara secara bertanggung jawab.
Netanyahu dan Eisenkot Bersaing Ketat
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kembali menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan kekuasaan.
Pemimpin Partai Likud tersebut bersaing dengan kelompok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot, mantan kepala staf militer Israel.
Netanyahu mengajak pendukungnya mendatangi tempat pemungutan suara.
“Ini momen yang menentukan,” katanya dalam pesan kepada para pendukung, Selasa (27/10/2026).
Sementara itu, Eisenkot menjanjikan perubahan arah pemerintahan.
Dalam kunjungan ke Kibbutz Nir Oz, Eisenkot menyatakan keyakinannya bahwa Israel membutuhkan semangat baru setelah tiga tahun konflik.
Kedua tokoh memiliki perbedaan pendekatan terhadap kebijakan domestik dan tanggung jawab pemerintah atas serangan 7 Oktober.
Namun, keduanya sama-sama menempatkan keamanan Israel sebagai agenda utama.
Partisipasi Pemilu Israel Cetak Rekor
Pemilu kali ini melibatkan 7.331.981 pemilih terdaftar dan 36 partai politik.
Sebanyak 12.018 tempat pemungutan suara disiapkan untuk memilih 120 anggota Knesset, parlemen Israel.
Pemungutan suara dimulai pukul 07.00 dan dijadwalkan berakhir pukul 22.00 waktu setempat.
Tingginya partisipasi menyebabkan antrean panjang di sejumlah lokasi.
Ketua sementara pelaksana Komite Pemilihan Pusat, Dean Livne, memastikan pemilih yang sudah mengantre sebelum batas waktu tetap dapat memberikan suara.
Sementara itu, penyelenggara pemilu menyatakan belum menemukan bukti kecurangan sistematis meskipun menerima laporan dugaan pelanggaran.
Netanyahu Belum Dinyatakan Kalah
Meski demonstrasi anti-Netanyahu berlangsung besar, hasil pemilu tidak dapat disimpulkan berdasarkan jumlah peserta aksi.
Survei terakhir sebelum pemungutan suara menunjukkan persaingan ketat antara koalisi pemerintah dan oposisi.
Rata-rata tiga survei televisi Israel memperkirakan blok Netanyahu memperoleh 50 kursi.
Sementara itu, kelompok oposisi utama diproyeksikan mengantongi 54 kursi.
Namun, kedua angka tersebut belum mencapai mayoritas 61 kursi.
Selain itu, partai-partai Arab dan kelompok politik kecil dapat memengaruhi pembentukan koalisi.
Israel menggunakan sistem pemilu proporsional. Karena itu, warga memilih partai politik, bukan perdana menteri secara langsung.
Hasil Resmi Masih Ditunggu
Penghitungan suara dijadwalkan berlangsung setelah pemungutan suara berakhir.
Hasil sementara dapat memberikan gambaran awal komposisi parlemen.
Namun, hasil tersebut belum otomatis menentukan perdana menteri berikutnya.
Setelah hasil pemilu ditetapkan, Presiden Isaac Herzog akan berkonsultasi dengan partai politik untuk menentukan tokoh yang mendapat mandat membentuk pemerintahan.
Dengan demikian, pergantian kekuasaan tetap bergantung pada kemampuan membangun koalisi.
Bagi keluarga korban serangan 7 Oktober, pemilu ini juga menjadi momentum untuk kembali menuntut penyelidikan independen.
Sementara itu, Netanyahu dan para pesaingnya harus menunggu penghitungan suara sebelum mengetahui arah pemerintahan Israel berikutnya.
Baca juga: Lula da Silva Menang Lagi di Brasil, Balikkan Ketertinggalan 2,2 Juta Suara



































