- Dinkes Takalar menemukan boraks dalam sampel tahu dari menu MBG yang dikirim ke UPT SD Negeri 58 Lengkese.
- Empat guru mengeluhkan gatal pada mulut setelah mencicipi makanan sebelum menu dibagikan kepada siswa.
- Sebanyak 86 siswa tidak mengonsumsi menu tersebut karena pihak sekolah memilih menahan makanan.
- Dinkes belum memastikan boraks sebagai penyebab keluhan dan meminta SPPG memperketat pemilihan bahan pangan.
JAMLIMA.COM, TAKALAR — Kandungan boraks ditemukan dalam tahu yang menjadi bagian menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.
Temuan itu terungkap setelah empat guru di UPT SD Negeri 58 Lengkese, Kecamatan Mangarabombang, mengeluhkan gatal pada area mulut usai mencicipi makanan sebelum dibagikan kepada siswa.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Takalar kemudian turun bersama puskesmas dan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda). Tim melakukan inspeksi sanitasi serta mengambil sampel makanan untuk diperiksa.
Kepala Dinkes Takalar dr. Nilal Fauziah mengatakan pemeriksaan dilakukan terhadap dua bahan dalam menu tersebut, yakni tahu dan ayam.
Hasilnya, sampel tahu diketahui mengandung boraks. Sementara pemeriksaan formalin terhadap kedua bahan menunjukkan hasil negatif.
“Dari pemeriksaan itu tahunya mengandung boraks,” kata Nilal, Kamis, (24/9/2026).
Menu Ditahan Sekolah
Peristiwa bermula pada Senin, (21/9/2026). Sebelum menu MBG diberikan kepada siswa, pihak sekolah terlebih dahulu melakukan pengecekan dengan mencicipi makanan.
Menu tersebut berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Topejawa, Kecamatan Mangarabombang.
Kepala UPT SD Negeri 58 Lengkese, Supriadi, mengatakan empat guru mengalami rasa gatal pada bagian mulut setelah mencicipi makanan. Mereka juga menilai rasa menu saat itu berbeda dari biasanya.
Kondisi tersebut membuat pihak sekolah memilih tidak mengambil risiko.
Menu MBG akhirnya ditahan dan tidak diberikan kepada 86 siswa penerima manfaat di sekolah tersebut. Tidak ada siswa yang dilaporkan mengalami gangguan kesehatan karena makanan belum sempat dikonsumsi.
Langkah itu kemudian diikuti pemeriksaan oleh tim kesehatan.
Boraks pada Tahu
Dinkes Takalar memastikan sampel yang diperiksa mencakup tahu dan ayam.
Pemeriksaan menemukan kandungan boraks pada tahu. Namun, formalin tidak ditemukan pada kedua bahan makanan tersebut.
Temuan ini menjadi perhatian karena boraks tidak diperbolehkan digunakan sebagai bahan dalam pangan.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memasukkan boraks dalam kelompok bahan kimia berbahaya yang dilarang digunakan pada makanan. Boraks pada penggunaan normal antara lain dimanfaatkan untuk keperluan nonpangan.
Regulasi mengenai bahan yang dilarang digunakan dalam pangan olahan dan sebagai bahan tambahan pangan saat ini juga diatur melalui Peraturan BPOM Nomor 22 Tahun 2023. Peraturan tersebut masih berstatus berlaku.
Meski demikian, Dinkes Takalar belum menarik kesimpulan bahwa kandungan boraks pada tahu menjadi penyebab langsung keluhan yang dialami empat guru.
Penyebab Belum Dipastikan
Nilal menjelaskan keluhan berupa gatal dan pembengkakan mengarah pada reaksi alergi.
Namun, sumber reaksi tersebut belum dapat ditentukan.
Menurut Dinkes, para guru juga telah mengonsumsi makanan lain. Selain itu, pemeriksaan medis tidak dilakukan tepat ketika keluhan tersebut muncul. Karena itu, hubungan langsung antara temuan boraks dan gejala yang dialami para guru belum bisa dipastikan.
“Alhamdulillah belum ada yang dirawat karena keracunan,” ujar Nilal.
Dinkes sebelumnya juga menyebut belum diketahui apakah reaksi tersebut berkaitan dengan tahu, ayam, atau faktor makanan lainnya.
Dengan demikian, temuan boraks dan munculnya keluhan kesehatan merupakan dua fakta yang sedang ditelusuri. Keduanya belum dapat langsung ditempatkan dalam hubungan sebab-akibat tanpa pemeriksaan lebih lanjut.
SPPG Buka Suara
Kepala SPPG Topejawa Muhammad Alwi juga memberikan penjelasan mengenai makanan yang tidak jadi dikonsumsi siswa.
Menurut Alwi, staf SPPG menarik kembali ompreng setelah menerima informasi mengenai hasil pemeriksaan organoleptik oleh guru penanggung jawab di sekolah.
Ia menyebut keluhan yang muncul berupa rasa gatal ringan pada rongga mulut dan lidah. Penyebabnya saat itu belum dapat dipastikan.
SPPG juga menyatakan menu pada hari yang sama didistribusikan ke sejumlah sekolah dan posyandu lain. Berdasarkan keterangan pihak SPPG, tidak ada laporan gangguan kesehatan dari sebagian besar penerima manfaat di lokasi lainnya.
Temuan boraks pada sampel tahu kemudian menjadi bagian penting dalam penelusuran sumber bahan pangan dan proses pengolahannya.
Pengawasan Diperketat
Dinkes Takalar meminta seluruh pengelola SPPG di wilayah tersebut lebih berhati-hati dalam memilih bahan pangan untuk program MBG.
Nilal menekankan pentingnya mengetahui sumber bahan makanan sebelum masuk ke dapur dan diolah untuk penerima manfaat.
Untuk jenis pangan tertentu, Dinkes bahkan mendorong pemeriksaan laboratorium dilakukan terlebih dahulu sebelum SPPG menetapkan pemasok.
Langkah tersebut dinilai penting karena makanan MBG dikonsumsi dalam jumlah besar, termasuk oleh anak sekolah.
BPOM juga menegaskan pangan harus bebas dari bahan kimia berbahaya seperti boraks, formalin, Rhodamin B, dan Kuning Metanil. Paparan bahan berbahaya dalam pangan dapat menimbulkan risiko kesehatan sehingga pengawasan perlu dilakukan sejak pemilihan bahan baku hingga makanan siap dikonsumsi.
Kasus di UPT SD Negeri 58 Lengkese kini menempatkan rantai pasok tahu dalam sorotan.
Selain memastikan keamanan bahan pangan, penelusuran diperlukan untuk mengetahui pada tahap mana boraks masuk ke dalam produk tahu yang kemudian digunakan sebagai bagian menu MBG.
Hingga Jumat, (25/9/2026), tidak ada siswa UPT SD Negeri 58 Lengkese yang dilaporkan mengalami gangguan kesehatan. Dinkes Takalar juga belum menyatakan keluhan empat guru sebagai keracunan akibat boraks.





































