- Basarnas Banten memastikan video yang diklaim menunjukkan penemuan lima jurnalis Arupadhatu 1 merupakan hoaks.
- Video tersebut berasal dari operasi SAR berbeda di Mesuji, Lampung, bukan pencarian Arupadhatu 1.
- Surakman menjadi satu-satunya anggota rombongan yang ditemukan dan teridentifikasi melalui pemeriksaan DVI dan DNA.
- Lima jurnalis, kapten kapal, pemandu, serta speedboat Arupadhatu 1 masih belum ditemukan.
JAMLIMA.COM, JAKARTA — Video yang diklaim memperlihatkan penemuan lima jurnalis Arupadhatu 1 beredar di media sosial. Basarnas Banten memastikan informasi tersebut hoaks.
Video itu memperlihatkan kapal karet oranye dalam sebuah operasi pencarian di perairan. Narasi yang menyertainya menyebut tim SAR telah menemukan lima jurnalis yang hilang saat hendak meliput Gunung Anak Krakatau.
Faktanya, rekaman tersebut tidak berkaitan dengan pencarian Arupadhatu 1.
Pemeriksaan fakta ANTARA/JACX yang terbit Jumat, (25/9/2026), juga memastikan video tersebut berasal dari operasi SAR berbeda.
Hingga Sabtu, (26/9/2026), otoritas belum mengumumkan penemuan lima jurnalis tersebut.
Polri Tegaskan Hoaks
Polri telah menerbitkan klarifikasi resmi mengenai video yang beredar.
“Namun faktanya, klaim bahwa jurnalis yang hilang saat meliput Gunung Anak Krakatau telah ditemukan adalah hoaks,” demikian keterangan resmi Tribrata News Polri.
Klarifikasi itu menegaskan belum ada informasi kredibel yang membenarkan klaim penemuan lima jurnalis.
Sementara itu, Basarnas Banten juga mengonfirmasi bahwa video tersebut tidak berkaitan dengan operasi pencarian Arupadhatu 1.
Video dari Mesuji
Penelusuran menunjukkan video yang beredar berasal dari operasi SAR di Mesuji, Lampung.
Rekaman tersebut berkaitan dengan pencarian Bripda Rifki Ardianto (23), anggota Ditsamapta Polda Sumatera Selatan yang hilang di perairan Sungai Badak.
Tim SAR gabungan menemukan Rifki dalam kondisi meninggal pada Jumat, (11/9/2026), sekitar pukul 10.00 WIB.
Lokasi penemuan berjarak sekitar 4,5 kilometer dari perkiraan titik awal korban terjatuh.
Dengan demikian, video tersebut bukan dokumentasi penemuan lima jurnalis Arupadhatu 1.
Satu ABK Teridentifikasi
Di tengah beredarnya informasi hoaks, pencarian Arupadhatu 1 sebelumnya menghasilkan satu temuan terkonfirmasi.
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri memastikan jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, merupakan Surakman atau Sukarman (60), salah satu ABK Arupadhatu 1.
Polda Banten mencocokkan data antemortem keluarga dengan data primer jenazah, termasuk sidik jari, data gigi dan DNA.
Kapolda Banten Irjen Pol Hengki mengatakan hasil pemeriksaan DNA memastikan identitas korban.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan DNA oleh Operasi DVI Pusdokkes Polri, jenazah Mr X tersebut secara genetis teridentifikasi sebagai SU yang merupakan ABK kapal Arupadhatu 1,” kata Hengki, Rabu, (23/9/2026).
Surakman ditemukan di kawasan Sawang Bengkok, Pulau Enggano, pada Sabtu, (12/9/2026).
Polri mengumumkan hasil identifikasinya pada Rabu, (23/9/2026).
Speedboat Masih Misterius
Identifikasi Surakman memberi petunjuk penting. Namun, temuan itu belum mengungkap keberadaan speedboat Arupadhatu 1.
Kapolda Banten Irjen Pol Hengki menegaskan kapal tersebut masih hilang.
“Yang pasti sampai dengan sekarang Arupadatu I tidak ada yang ditemukan. Ya kita samakan sekarang masih hilang,” kata Hengki
Hengki meminta semua pihak tidak berspekulasi mengenai posisi kapal.
“Belum ada kejelasan kapal itu ke mana,” ujarnya.
Hingga kini, otoritas belum menemukan badan kapal, mesin atau material yang terkonfirmasi berasal dari Arupadhatu 1.
Penemuan Surakman di Enggano juga tidak membuktikan speedboat berada atau tenggelam di sekitar pulau tersebut.
Barang Temuan Tak Terkait
Selama operasi SAR, petugas menemukan sejumlah benda yang sempat diperiksa sebagai kemungkinan petunjuk.
Polda Banten kemudian mencocokkan benda-benda tersebut dengan data dan keterangan pemilik Arupadhatu 1.
Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea mengatakan tiga jaket pelampung, dua terpal dan satu galon air yang ditemukan pada hari keenam tidak berkaitan dengan rombongan.
“Dari hasil pendalaman dan pencocokan dipastikan bahwa objek yang ditemukan ini tidak berkaitan dengan teman-teman dari speed boat Arupadhatu 1,” kata Maruli.
Polisi sebelumnya juga memeriksa dua jaket pelampung oranye bertuliskan “MILLES.II”, jeriken dan helm merah.
Hasil verifikasi menunjukkan benda-benda tersebut bukan perlengkapan Arupadhatu 1.
Dengan demikian, otoritas belum memiliki temuan material kapal yang dapat digunakan untuk menentukan posisi speedboat.
Basarnas Ubah Pola
Tim SAR gabungan menjalankan operasi pencarian selama tujuh hari, kemudian memperpanjangnya tiga hari.
Setelah 10 hari, Basarnas menutup operasi SAR khusus. Namun, pemantauan terhadap Arupadhatu 1 tetap berjalan.
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menjelaskan Basarnas tidak lagi mengerahkan seluruh kekuatan dalam operasi khusus.
Basarnas mengalihkan kegiatan ke operasi rutin atau kesiapsiagaan sesuai sektor masing-masing.
Pemantauan mencakup Banten, Lampung hingga Bengkulu.
Basarnas juga memanfaatkan Vessel Traffic Service (VTS), stasiun radio pantai, kapal yang melintas, nelayan dan masyarakat pesisir untuk memperoleh informasi baru.
Jika muncul petunjuk baru yang terverifikasi, Basarnas dapat kembali membuka operasi SAR khusus.
Pantau hingga Enggano
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten Al Amrad mengatakan koordinasi terus berjalan dengan Kantor SAR Lampung dan Bengkulu.
“Hingga saat ini, kami terus berkoordinasi dengan Kantor SAR Bengkulu dan Lampung untuk memantau wilayah pesisir serta melibatkan para nelayan sekitar,” kata Al Amrad.
Namun, pemantauan belum menghasilkan petunjuk tambahan.
“Meski hasilnya sementara masih nihil, termasuk pemantauan di wilayah perairan Lebak, upaya koordinasi ini tidak dihentikan,” ujarnya.
Identifikasi Surakman di Enggano membuat wilayah Bengkulu menjadi bagian penting dalam pemantauan.
Namun, otoritas belum menyimpulkan bahwa speedboat mengikuti jalur yang sama dengan korban.
Tujuh Orang Masih Hilang
Arupadhatu 1 membawa delapan orang ketika bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Senin, (7/9/2026).
Rombongan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk kegiatan peliputan.
Lima orang merupakan jurnalis. Tiga lainnya terdiri atas kapten kapal, ABK dan pemandu.
Setelah Surakman ditemukan dan teridentifikasi, tujuh orang masih hilang.
Lima jurnalis tersebut ialah M Bagus Khoirunas dari ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudhistiro dari iNews, Firdaus dari Anadolu, serta Donal yang merupakan jurnalis lepas.
Dua orang lainnya adalah Warta selaku kapten kapal dan Heriyanto sebagai pemandu.
Speedboat Arupadhatu 1 juga belum ditemukan.
Hingga Sabtu, (26/9/2026), Basarnas, Polri maupun TNI AL belum mengumumkan penemuan korban tambahan atau material baru yang terkonfirmasi berasal dari Arupadhatu 1.
Karena itu, video yang menyebut lima jurnalis telah ditemukan bertentangan dengan perkembangan resmi pencarian.
Status terkonfirmasi tetap sama: Surakman menjadi satu-satunya anggota rombongan yang ditemukan dan teridentifikasi.
Lima jurnalis, dua anggota rombongan lainnya, serta speedboat Arupadhatu 1 masih belum ditemukan.





































