- Iran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam tujuh hari jika AS memenuhi sejumlah syarat.
- Teheran meminta AS mengakhiri blokade terhadap pelabuhan Iran dan mengurangi tekanan militernya.
- Presiden Masoud Pezeshkian menegaskan Iran tidak akan tunduk pada tekanan, tetapi tetap membuka jalur diplomasi.
- Hingga Minggu, (26/9/2026), Iran masih menunggu respons resmi Washington atas proposal tersebut.
JAMLIMA.COM, TEHRAN — Iran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam tujuh hari dengan sejumlah syarat terhadap Amerika Serikat.
Sementara Presiden Masoud Pezeshkian menegaskan Teheran tidak akan tunduk pada tekanan.
Pezeshkian menyampaikan sikap itu saat berpidato dalam Sidang Majelis Umum PBB di New York, Rabu, (23/9/2026).
Ia mempersoalkan kondisi ketika negara lain tetap menggunakan Selat Hormuz.
Sedangkan Iran menghadapi pembatasan terhadap akses pelayaran dan pelabuhannya.
Pezeshkian juga menegaskan bahwa pengerahan armada militer dan perluasan perang tidak akan menghasilkan perdamaian.
Iran Ajukan Syarat
Sikap Iran terhadap Hormuz kini bergerak dari pernyataan politik menuju proposal yang lebih konkret.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Teheran telah menyerahkan rencana tujuh hari kepada Amerika Serikat.
Menurut Araqchi, Iran dapat memulihkan pelayaran normal di Selat Hormuz dalam tujuh hari jika Washington memenuhi persyaratan yang diajukan.
“Pilihan sekarang berada di tangan Amerika Serikat,” kata Araqchi kepada wartawan di PBB, Jumat, (25/9/2026).
Iran sebelumnya meminta AS mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhannya.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan Teheran dapat membuka kembali jalur tersebut dalam waktu tujuh hari.
Hal tersebut setelah Washington mengambil langkah yang diminta.
Teheran juga mengaitkan proposal itu dengan memorandum kesepahaman yang pernah disepakati kedua negara pada Juni 2026.
Pezeshkian Tolak Tekanan
Di tengah proses tersebut, Pezeshkian mengambil posisi tegas terhadap tekanan Amerika Serikat.
Ia menyatakan rakyat Iran tidak akan tunduk pada tekanan, tetapi tetap mendukung diplomasi untuk mengakhiri konflik.
Pezeshkian juga menolak penggunaan ancaman kekuatan sebagai dasar perundingan dengan Washington.
Pada saat yang sama, Iran tidak menutup peluang penyelesaian melalui negosiasi.
Sikap itu membuat Selat Hormuz menjadi salah satu isu utama dalam upaya meredakan konflik Iran-AS.
Sebelum perang, jalur tersebut membawa sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia.
Negosiasi Mulai Bergerak
Amerika Serikat dan Iran kemudian membahas kemungkinan penyelesaian secara bertahap melalui perantara di New York.
Sumber yang mengetahui pembicaraan menyebut skema tersebut dapat mencakup pembukaan Hormuz oleh Iran dan pencabutan blokade ekonomi AS secara bertahap.
Namun, kedua pihak masih mempertahankan posisi masing-masing dan belum mencapai kesepakatan final.
Washington menginginkan kapal kembali memperoleh akses bebas melalui salah satu jalur energi terpenting dunia.
Sebaliknya, Teheran menginginkan AS menghentikan blokade ekonomi dan membuka akses terhadap aset Iran yang dibekukan.
Iran juga menunjukkan fleksibilitas dalam beberapa bagian negosiasi.
Namun, tetap mempertahankan tuntutan utama terkait blokade dan kendali atas jalur tersebut.
Iran Tunggu Respons AS
Perkembangan terbaru pada Sabtu, (26/9/2026), menunjukkan proposal itu belum menghasilkan keputusan.
Iran menyatakan masih menunggu respons resmi Amerika Serikat setelah mengirimkan usulnya melalui mediator Qatar.
Araqchi mengatakan kesepakatan tersebut dapat memulai hitung mundur tujuh hari.
Bertujuan untuk membuka kembali Hormuz sekaligus menghentikan pertempuran regional.
Wall Street Journal kemudian melaporkan Presiden AS Donald Trump telah menolak proposal tersebut.
Namun, hingga laporan Reuters pada Sabtu, Iran masih menunggu jawaban resmi Washington.
Seorang pejabat AS sebelumnya menyebut komunikasi melalui mediator berlangsung positif dan konstruktif.
Karena itu, laporan mengenai penolakan Trump belum sama dengan konfirmasi resmi pemerintah AS kepada Teheran.
Hormuz Jadi Poros Diplomasi
Ketidakpastian tersebut membuat Selat Hormuz tetap menjadi salah satu poros utama diplomasi Iran-AS.
Bagi Washington, pembukaan jalur itu berkaitan langsung dengan kebebasan navigasi dan stabilitas pasokan energi.
Sementara bagi Teheran, pembukaan Hormuz berkaitan dengan tuntutan untuk mengakhiri blokade dan mengurangi tekanan Amerika Serikat.
Iran kini menawarkan jalur tujuh hari menuju normalisasi pelayaran, tetapi pelaksanaannya bergantung pada respons Washington.
Dengan posisi kedua pihak yang masih berbeda, pembukaan penuh Selat Hormuz tetap bergantung pada hasil negosiasi Iran dan Amerika Serikat.





































