- Serangan udara kembali menyasar posisi Houthi di Taiz, Yaman, pada Selasa (20/10/2026).
- Serangan rudal Houthi di Shabwa menewaskan 58 orang, melukai lebih dari 200 orang, dan menyebabkan 14 lainnya hilang.
- Mesir mempertimbangkan bantuan militer kepada Arab Saudi, tetapi masih menunggu persetujuan parlemen.
- Konflik mengancam keselamatan warga, fasilitas energi, dan keamanan jalur perdagangan Laut Merah.
JAMLIMA.COM, ARAB SAUDI — Perang Yaman kembali memanas. Serangan udara dan rudal terus mengguncang sejumlah wilayah, sementara Arab Saudi menghadapi ancaman terhadap fasilitas strategisnya.
Pada Selasa (20/10/2026), pesawat militer dilaporkan menyerang dua konvoi pasukan Houthi di wilayah Taiz.
Serangan lain menyasar gudang senjata di Jabal Habshi, sebelah barat Taiz.
Namun, belum ada konfirmasi independen mengenai identitas pesawat penyerang maupun jumlah korban.
Sehari sebelumnya, serangan rudal Houthi menghantam kamp pelatihan pasukan pemerintah Yaman di Provinsi Shabwa.
Insiden tersebut menewaskan puluhan orang dan memperburuk konflik yang terus meluas.
Serangan Houthi Tewaskan 58 Orang
Gubernur Shabwa, Awad al-Wazir, menyatakan serangan pada Senin (19/10/2026) menewaskan 58 orang.
Selain itu, lebih dari 200 orang mengalami luka-luka dan 14 lainnya masih hilang.
Menurut sumber pemerintah setempat, Houthi meluncurkan tiga rudal balistik ke kamp Al-Alam.
Serangan berlangsung ketika pasukan keamanan pemerintah sedang menjalani latihan.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengakui kelompoknya menyerang kamp tersebut.
Ia mengklaim fasilitas itu berada di bawah kendali pasukan Arab Saudi.
Namun, pemerintah Saudi belum mengonfirmasi klaim tersebut.
Reuters telah memverifikasi rekaman dampak serangan, tetapi belum memastikan keberadaan personel militer Saudi di lokasi.
Arab Saudi Hadapi Serangan Fasilitas Strategis
Konflik juga meluas ke wilayah Arab Saudi.
Houthi mengklaim melancarkan sejumlah serangan terhadap fasilitas minyak, bandara, dan instalasi militer kerajaan.
Pada Senin (19/10/2026), kelompok tersebut menyebut fasilitas Aramco di Yanbu dan ladang minyak Shaybah sebagai sasaran.
Houthi juga mengklaim menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh serta Bandara Abha.
Namun, otoritas Saudi belum mengonfirmasi seluruh serangan tersebut.
Sebelumnya, koalisi pimpinan Arab Saudi meningkatkan operasi udara terhadap posisi Houthi di Yaman.
Operasi tersebut menyasar jalur pasokan, kendaraan militer, dan fasilitas persenjataan.
Pertempuran juga berlangsung di sekitar Taiz dan wilayah strategis dekat Selat Bab al-Mandab.
Mesir Pertimbangkan Bantuan Militer Saudi
Di tengah eskalasi konflik, Mesir mulai mempertimbangkan keterlibatan militer untuk membantu Arab Saudi.
Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi meminta persetujuan parlemen agar angkatan bersenjata dapat membantu Saudi apabila diperlukan.
Dalam pidatonya pada Sabtu (17/10/2026), Sisi menegaskan komitmen Mesir melindungi negara-negara Teluk.
“Kami tidak akan pernah melupakan saudara-saudara kami di Teluk,” kata Sisi, sebagaimana dilaporkan Reuters.
Namun, parlemen Mesir menunda pemungutan suara mengenai bantuan militer hingga 26 Oktober 2026.
Dengan demikian, belum ada keputusan final mengenai pengerahan pasukan Mesir.
Sejumlah analis memperkirakan bantuan dapat berupa pertahanan udara dan pengamanan laut.
Langkah tersebut berkaitan dengan kepentingan Mesir menjaga keamanan Laut Merah dan Terusan Suez.
Serangan Ancam Pasokan Minyak Dunia
Pertempuran Arab Saudi dan Houthi turut meningkatkan kekhawatiran pasar energi.
Pada Selasa (20/10/2026), harga minyak Brent berada di kisaran 109,06 dolar AS per barel.
Sebelumnya, harga Brent sempat mencapai 110,70 dolar AS per barel pada perdagangan Senin.
Analis KCM Trade, Tim Waterer, menyebut pelaku pasar memperhatikan risiko kerusakan fasilitas energi di kawasan Teluk.
Namun, pergerakan harga minyak juga dipengaruhi perkembangan kebijakan energi Rusia.
Sementara itu, ancaman terhadap Selat Bab al-Mandab dapat mengganggu jalur pelayaran internasional.
Selat tersebut menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi jalur penting perdagangan Asia-Eropa.
Konflik Yaman Berisiko Semakin Meluas
Perang Yaman berlangsung sejak Houthi menguasai Sanaa pada 2014.
Arab Saudi kemudian memimpin koalisi militer pada Maret 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui internasional.
Pertempuran sempat mereda setelah kesepakatan gencatan senjata pada 2022.
Namun, eskalasi terbaru kembali meningkatkan ancaman terhadap penduduk sipil.
Selain menimbulkan korban, serangan juga merusak fasilitas penting dan menghambat aktivitas masyarakat.
Hingga Selasa (20/10/2026), belum ada kesepakatan baru untuk menghentikan pertempuran.
Keterlibatan militer Mesir, apabila disetujui, berpotensi mengubah dinamika keamanan kawasan.
Sementara itu, warga Yaman terus menghadapi dampak kemanusiaan akibat konflik berkepanjangan.
Baca juga: Serangan Houthi Guncang Arab Saudi, Bagaimana Nasib Haji 2027 dan Jemaah Umrah Indonesia?





































