Scroll untuk baca artikel
LokalNasional

Kabut Asap Tekan Jarak Pandang 500 Meter, Pesawat Jakarta–Palembang Gagal Mendarat

×

Kabut Asap Tekan Jarak Pandang 500 Meter, Pesawat Jakarta–Palembang Gagal Mendarat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi pesawat memasuki Bandara SMB II Palembang saat kabut asap menurunkan jarak pandang hingga sekitar 500 meter.
KABUT ASAP — Ilustrasi pesawat menuju Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang di tengah kabut asap. Jarak pandang sempat turun hingga sekitar 500 meter dan mengganggu sejumlah penerbangan pada 1–2 Oktober 2026. (Ilustrasi/Jamlima.com)

  • Kabut asap menurunkan jarak pandang Bandara SMB II Palembang hingga sekitar 500 meter pada Kamis, 1 Oktober 2026.
  • Citilink QG980 rute Jakarta–Palembang gagal mendarat dan kembali ke Bandara Soekarno-Hatta.
  • Rekap operasional mencatat 12 penerbangan terdampak, terdiri atas 10 keterlambatan dan dua penerbangan gagal mendarat.
  • Gangguan berlanjut Jumat, 2 Oktober 2026. Lima penerbangan kembali mengalami keterlambatan akibat jarak pandang terbatas.

JAMLIMA.COM, PALEMBANG — Kabut asap mengganggu penerbangan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Sumatera Selatan.

Jarak pandang turun hingga sekitar 500 meter pada Kamis pagi, 1 Oktober 2026.

Kondisi itu membuat Citilink QG980 rute Jakarta–Palembang tidak dapat melanjutkan pendaratan.

Pesawat kemudian melakukan return to base atau RTB menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

General Manager Bandara SMB II Palembang Ahmad Syaugi Sahab mengatakan jarak pandang berada di bawah batas minimum.

“QG980 dari Jakarta RTB karena visibility below minima, jarak pandang 500 meter,” kata Syaugi, Kamis.

QG980 dijadwalkan tiba di Palembang sekitar pukul 07.10 WIB.

Data lain mencatat estimasi kedatangannya sekitar pukul 06.50 WIB.

Pesawat tidak melanjutkan pendaratan karena kondisi visibility tidak memenuhi batas operasional yang diperlukan.

Dua Pesawat Gagal Mendarat

Citilink bukan satu-satunya penerbangan yang mengubah rencana pendaratan.

Super Air Jet IU933 rute Yogyakarta–Palembang juga tidak dapat mendarat di SMB II.

Pesawat yang dijadwalkan tiba sekitar pukul 08.05 WIB itu kemudian divert ke Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru.

Data awal operasional bandara merinci empat penerbangan dengan gangguan paling jelas.

Selain QG980 dan IU933, Super Air Jet IU302 rute Palembang–Pangkalpinang terlambat 1 jam 21 menit.

Batik Air ID7054 rute Palembang–Halim Perdanakusuma juga terlambat sekitar 29 menit.

Namun, rekap berikutnya menunjukkan dampak yang lebih luas.

Sebanyak 12 penerbangan tercatat terganggu sepanjang periode tersebut.

Sepuluh penerbangan mengalami keterlambatan, sedangkan dua penerbangan tidak dapat mendarat di Palembang.

Humas Bandara SMB II Palembang Nidia Besthonie menyebut rendahnya jarak pandang menjadi faktor utama gangguan.

“Akibat jarak pandang 500 meter, ada 12 penerbangan yang terganggu,” ujarnya.

Tujuh penerbangan keberangkatan termasuk dalam daftar terdampak.

Rutenya antara lain menuju Pangkalpinang, Jakarta, Halim Perdanakusuma, dan Kualanamu.

Sementara itu, beberapa penerbangan menuju Palembang juga mengalami penundaan.

Di antaranya Pelita Air IP310, Super Air Jet IU924, dan Garuda Indonesia GA102 dari Jakarta.

Jarak Pandang Jauh di Bawah Kondisi Normal

Kabut asap membuat kondisi pendaratan menjadi lebih terbatas.

General Manager AirNav Indonesia Cabang Palembang Lanang Wibisono mengatakan jarak pandang sempat turun tajam pada pagi hari.

Menurut Lanang, jarak pandang untuk pendaratan normal di SMB II berada pada sekitar 1.800 meter dengan fasilitas navigasi dan bandara berfungsi normal.

Karena itu, pengelola bandara dan maskapai menyesuaikan operasi dengan kondisi aktual.

Keselamatan tetap menjadi pertimbangan utama sebelum pesawat melanjutkan pendaratan atau lepas landas.

“Operasional penerbangan tetap menyesuaikan dengan kondisi cuaca dan jarak pandang di bandara,” kata Syaugi.

Kualitas Udara Masuk Kategori Berbahaya

Gangguan penerbangan terjadi bersamaan dengan memburuknya kualitas udara Palembang.

BMKG mencatat konsentrasi PM2.5 di sejumlah stasiun pemantauan berada pada kategori berbahaya.

Pada Jumat pagi, 2 Oktober 2026, BMKG masih menempatkan kualitas udara di Musi 2 dan Talang Betutu Palembang dalam kategori berbahaya.

Sehari sebelumnya, konsentrasi PM2.5 juga meningkat tajam sejak dini hari.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan Wandayantolis mengatakan kualitas udara masih berada pada level berbahaya.

“Masih level berbahaya, kualitas udara buruk akibat PM2.5 meningkat,” katanya.

BMKG melihat arah angin turut memengaruhi distribusi asap.

Asap bergerak dari kawasan timur hingga tenggara Palembang, sementara kebakaran masih terjadi di sejumlah wilayah di bagian timur kota.

Ribuan Titik Panas Terdeteksi di Sumatera Selatan

Sehari sebelum gangguan penerbangan, BMKG mendeteksi 3.734 hotspot di Pulau Sumatera.

Sebanyak 2.639 titik berada di Sumatera Selatan berdasarkan pembaruan hingga Rabu pagi, 30 September 2026.

Namun, hotspot tidak selalu berarti titik kebakaran aktif.

Data tersebut menunjukkan anomali suhu yang terdeteksi satelit dan masih memerlukan verifikasi lapangan.

BMKG juga telah memperingatkan risiko peningkatan hotspot pada awal Oktober.

Sebagian besar Sumatera Selatan diprakirakan memiliki peluang lebih dari 90 persen mengalami curah hujan rendah pada dasarian pertama Oktober.

Curah hujan juga diprakirakan berada di bawah kondisi normal.

Kondisi kering memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan di wilayah rawan.

BNPB sebelumnya juga meningkatkan perhatian terhadap Sumatera Selatan karena ancaman karhutla dan asap selama periode kemarau.

Gangguan Berlanjut 2 Oktober

Kabut asap belum sepenuhnya hilang pada Jumat, 2 Oktober 2026.

Bandara SMB II kembali mencatat lima penerbangan mengalami keterlambatan pada pagi hari.

Empat merupakan penerbangan menuju Palembang dan satu penerbangan berangkat menuju Jakarta.

Penerbangan yang terdampak antara lain Citilink QG980 dari Jakarta, Super Air Jet IU933 dari Yogyakarta, Super Air Jet IU924 dari Jakarta, dan Pelita Air IP310 dari Jakarta.

Citilink QG981 rute Palembang–Jakarta juga mengalami keterlambatan.

Nidia mengatakan bandara terus memantau cuaca dan jarak pandang.

Langkah tersebut diperlukan agar aktivitas penerbangan tetap memenuhi aspek keselamatan dan keamanan.

Pada Jumat itu, Bandara SMB II menjadwalkan 48 pergerakan pesawat.

Jumlah tersebut terdiri atas 24 keberangkatan dan 24 kedatangan.

Dengan demikian, gangguan pada 1–2 Oktober menunjukkan kabut asap tidak hanya berdampak pada kualitas udara.

Penurunan jarak pandang juga langsung memengaruhi konektivitas penerbangan dari dan menuju Palembang.

Selama asap masih bertahan, penumpang perlu memantau perubahan jadwal melalui maskapai dan informasi resmi bandara sebelum menuju terminal.


Baca juga: SPARTAN Jadi Alarm Dini Karhutla, BMKG Petakan Risiko Api Sebelum Meluas