- Polemik bermula dari unggahan Calvin Cheng, mantan anggota parlemen Singapura, pada 25 Oktober 2026.
- Menkomdigi Meutya Hafid menyebut 80 persen kapasitas konektivitas Singapura berisiko terganggu jika jalur kabel tertentu terputus.
- Sekitar 90 persen trafik internet Indonesia masih bergantung pada jalur melalui Singapura, menurut data Komdigi pada Juni 2026.
JAMLIMA.COM, JAKARTA — Isu pemutusan internet Indonesia oleh Singapura memicu perdebatan.
Namun, persoalannya bukan sekadar siapa yang mampu memutus jaringan.
Indonesia dan Singapura justru saling membutuhkan infrastruktur kabel bawah laut untuk menjaga konektivitas digital.
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengingatkan bahwa sebagian besar jalur kabel laut yang mendarat di Singapura melewati perairan Indonesia.
“Kita tidak perlu geram,” tulis Meutya melalui Instagram pribadinya, Selasa (27/10/2026).
Menurut Meutya, gangguan pada kabel tersebut juga berpotensi merugikan Singapura.
“Jika terpotong atau dipotong, 80% kapasitas konektivitas Singapura juga terancam lumpuh,” ujarnya.
Angka 80 persen itu merupakan peringatan mengenai potensi gangguan, bukan laporan bahwa jaringan Singapura telah lumpuh.
Unggahan Calvin Cheng Memicu Polemik
Polemik bermula pada Minggu (25/10/2026).
Calvin Cheng Ern Lee, mantan anggota parlemen nominasi Singapura, mengunggah infografis melalui akun X @calvinelcheng.
Infografis tersebut menggambarkan ketergantungan internet Indonesia terhadap Singapura.
Calvin kemudian menambahkan pertanyaan singkat, “Cut?” atau “Potong?”.
Unggahan itu memancing reaksi warganet. Namun, Calvin belakangan menjelaskan bahwa Singapura tidak akan melakukan pemutusan jaringan karena menghormati hukum.
Pernyataan Calvin merupakan pendapat pribadi, bukan keputusan resmi pemerintah Singapura.
Polemik tersebut muncul setelah Indonesia mengurangi ekspor gas pipa ke Singapura mulai Sabtu (24/10/2026).
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa pengurangan mencapai sekitar delapan persen dari total ekspor gas pipa Indonesia ke negara tersebut.
Menurut Bahlil, kebijakan itu berkaitan dengan pemeliharaan fasilitas dan kebutuhan gas dalam negeri.
Mengapa Internet Indonesia Bergantung pada Singapura?
Persoalan ketergantungan internet Indonesia sebenarnya telah menjadi perhatian pemerintah sebelum polemik muncul.
Pada 8 Juni 2026, Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Komdigi Denny Setiawan mengungkapkan kondisi tersebut.
“Jujur, sekarang traffic kita 90 persen tergantung Singapura,” kata Denny dalam diskusi Selular Award 2026 di Jakarta.
Artinya, sebagian besar lalu lintas data internasional Indonesia masih mengandalkan jalur yang melewati Singapura.
Namun, angka itu bukan berarti 90 persen pengguna internet Indonesia akan kehilangan akses jika satu kabel terputus.
Sebab, jaringan internasional menggunakan banyak kabel dan jalur penghubung.
Berdasarkan pemetaan TeleGeography yang dikutip Katadata pada 28 Oktober 2026, terdapat 24 sistem kabel laut penghubung Indonesia dan Singapura.
Sebanyak 17 sistem telah beroperasi. Sementara itu, tujuh lainnya masih dalam tahap perencanaan.
Tidak Ada Satu Tombol untuk Mematikan Internet RI
Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menjelaskan bahwa Singapura tidak memiliki satu tombol untuk langsung mematikan seluruh internet Indonesia.
Menurut Heru, jaringan tersebut melibatkan berbagai perusahaan dan konsorsium internasional.
Karena itu, gangguan pada satu jalur tidak otomatis menghentikan seluruh layanan internet.
Meski demikian, gangguan besar tetap berisiko memperlambat koneksi apabila kapasitas jaringan cadangan tidak mencukupi.
Heru pun mendorong pemerintah meninjau ketahanan kabel laut dan memperbanyak jalur alternatif.
Langkah tersebut penting agar lalu lintas data Indonesia tidak terlalu bergantung pada satu pusat konektivitas.
Risiko Dua Negara, Kepentingan Bersama
Polemik ini memperlihatkan bahwa Indonesia dan Singapura memiliki kepentingan berbeda, tetapi saling berkaitan.
Indonesia membutuhkan jalur internasional yang andal. Sebaliknya, Singapura juga bergantung pada kestabilan jaringan kabel laut kawasan.
Namun, angka 90 persen trafik Indonesia dan 80 persen kapasitas Singapura tidak dapat dibandingkan secara langsung. Keduanya memiliki dasar pengukuran berbeda.
Meutya menegaskan bahwa jaringan digital harus dijaga untuk kepentingan bersama.
“Kita tidak boleh berpikir kerdil,” tegasnya.
Dengan demikian, persoalan utamanya bukan siapa yang dapat memutus internet negara lain.
Tantangan Indonesia adalah memperkuat jalur cadangan agar layanan digital tetap berjalan ketika jaringan utama mengalami gangguan.
Baca juga: Trump Ancam Epic Fury Baru, Iran Bidik Kabel Internet Bawah Laut di Teluk





































