Scroll untuk baca artikel
InternasionalSehat

DBD Tewaskan 419 Orang di Bangladesh, Oktober Tertinggi

×

DBD Tewaskan 419 Orang di Bangladesh, Oktober Tertinggi

Sebarkan artikel ini
ilustrasi pasien dengue menjalani perawatan di rumah sakit bangladesh
DENGUE BANGLADESH — Ilustrasi tenaga kesehatan memeriksa pasien dengue di rumah sakit. Bangladesh mencatat 419 kematian akibat dengue hingga Sabtu (31/10/2026), dengan Oktober menjadi bulan paling mematikan sepanjang tahun tersebut. (Foto: Ilustrasi Digital/Jamlima.com).

  • Korban bertambah: DBD menewaskan 419 orang di Bangladesh sepanjang 2026 hingga Sabtu, 31 Oktober. Sebanyak 135.000 pasien tercatat menjalani perawatan rumah sakit.
  • Oktober paling mematikan: Sebanyak 174 kematian terjadi sepanjang Oktober, melampaui 148 kematian pada September.
  • Pasien datang terlambat: Evaluasi terhadap 119 pasien yang meninggal menemukan lebih dari sepertiganya meninggal dalam 24 jam setelah masuk rumah sakit.
  • Ancaman belum berakhir: Pakar memperkirakan penularan berlanjut sepanjang November. Infeksi berulang dan keterlambatan penanganan meningkatkan risiko dengue berat.

JAMLIMA.COM, DHAKA — Wabah DBD di Bangladesh terus merenggut korban jiwa.

Sepanjang 2026, sebanyak 419 orang meninggal akibat penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes tersebut.

Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Bangladesh atau Directorate General of Health Services (DGHS) memperbarui jumlah korban pada Sabtu (31/10/2026).

Dalam 24 jam hingga pukul 08.00 waktu setempat, otoritas kesehatan mencatat satu kematian dan 1.633 pasien baru yang masuk rumah sakit.

Kematian terbaru terjadi di Divisi Khulna. Sementara itu, sebanyak 6.236 pasien masih menjalani perawatan di berbagai rumah sakit Bangladesh.

Baca juga: Lonjakan Ebola di Kongo Tembus 7.258 Kasus, 3.510 Meninggal, Terbesar dalam Sejarah

Oktober Bulan Mematikan

Oktober mencatat 174 kematian akibat DBD. Jumlah tersebut merupakan yang tertinggi sepanjang 2026 hingga akhir bulan ini.

Sebelumnya, September mencatat 148 kematian. Dengan demikian, jumlah korban pada Oktober meningkat sekitar 17,6 persen.

Bahkan, sekitar 41,5 persen dari seluruh kematian akibat DBD sepanjang tahun ini terjadi pada Oktober.

Pada Sabtu (31/10), DGHS masih mencatat 418 kematian dan 133.367 pasien yang masuk rumah sakit.

Sehari kemudian, laporan terbaru menunjukkan jumlah pasien yang pernah dirawat meningkat menjadi 135.000 orang.

Sebanyak 128.345 pasien telah pulang setelah menjalani pengobatan.

Peningkatan berlangsung cepat sejak pertengahan Oktober.

Pada 12 Oktober, jumlah pasien yang masuk rumah sakit telah melampaui 100.000 orang.

Dua hari kemudian, angka tersebut meningkat menjadi 105.316 pasien.

Pemantauan kesehatan internasional juga mencatat 114.251 kasus dan 352 kematian hingga 19 Oktober.

Selanjutnya, pada 25 Oktober, Bangladesh melaporkan 2.249 pasien baru dalam sehari.

Jumlah itu merupakan angka penerimaan pasien harian tertinggi sepanjang tahun hingga tanggal tersebut.

Empat hari kemudian, jumlah kematian tahunan telah mencapai 415 orang.

Data tersebut menunjukkan lonjakan pasien tidak berhenti setelah musim hujan mencapai puncaknya.

Sebaliknya, tekanan terhadap fasilitas kesehatan berlanjut hingga penghujung Oktober.

Sepertiga Pasien Meninggal dalam 24 Jam Perawatan

Di balik tingginya angka kematian, muncul persoalan serius mengenai waktu kedatangan pasien ke rumah sakit.

Institute of Epidemiology, Disease Control and Research (IEDCR) Bangladesh mengevaluasi kematian 119 pasien DBD.

Hasilnya, lebih dari sepertiga pasien meninggal dalam 24 jam setelah masuk rumah sakit.

Evaluasi tersebut juga menemukan bahwa sindrom syok dengue menjadi penyebab utama kematian, dengan proporsi 62,5 persen.

Selain itu, sejumlah pasien mengalami keterlambatan diagnosis hingga sedikitnya tiga hari.

Temuan tersebut tidak berarti seluruh kematian disebabkan keterlambatan penanganan.

Namun, hasil evaluasi menunjukkan pentingnya mengenali kondisi pasien sebelum memasuki fase kritis.

Direktur IEDCR Quazi Ahmed Zaki menjelaskan, timnya telah melakukan pemeriksaan:

  • Penyebab kematian
  • Kualitas pengobatan
  • Keterlambatan diagnosis
  • Kondisi pasien sebelum dirawat.

Kondisi serupa terlihat di Rumah Sakit Shaheed Suhrawardy Medical College, Dhaka.

Direktur rumah sakit, Mirza Golam Sarwar, mengatakan banyak pasien datang dengan komplikasi berat.

“Kami menerima banyak pasien dalam kondisi syok. Tekanan darah mereka terkadang terlalu rendah untuk diukur,” katanya kepada Reuters.

Kutipan tersebut merupakan terjemahan dari pernyataan berbahasa Inggris.

Sarwar juga mengungkapkan bahwa sejumlah pasien mengalami penurunan kadar oksigen dalam darah.

Sementara itu, dokter spesialis penyakit dalam ABM Abdullah menilai infeksi DBD berulang.

Termasuk keterlambatan pengobatan ikut memperbesar risiko penyakit berat.

Pemerintah Perluas Layanan

Pemerintah Bangladesh sebelumnya meningkatkan kesiapan rumah sakit untuk menangani lonjakan pasien.

Langkah tersebut mencakup penambahan tempat tidur, penyediaan cairan infus, pemeriksaan diagnostik, dan pembukaan ruang perawatan khusus dengue.

Sejumlah rumah sakit pemerintah juga menyediakan pemeriksaan antigen NS1 secara gratis.

Namun, peningkatan fasilitas belum sepenuhnya menghilangkan persoalan keterlambatan pasien mendapatkan pertolongan.

Pakar kesehatan masyarakat Mushtuq Hussain menekankan pentingnya memperkuat layanan kesehatan tingkat pertama.

Menurutnya, sebagian warga berpenghasilan rendah tetap bekerja ketika demam karena tekanan ekonomi.

Akibatnya, mereka berisiko menunda pemeriksaan sampai penyakit berkembang lebih berat.

Di sisi lain, pemerintah Bangladesh menyatakan telah meningkatkan kampanye kebersihan dan pengendalian nyamuk.

Pemerintah juga menyiapkan tim pemantauan khusus untuk memperkuat pencegahan dengue di wilayah Dhaka.

Kematian Tahun Ini Lampaui Sepanjang 2025

Jumlah kematian akibat dengue sepanjang 2026 kini telah melampaui angka satu tahun penuh pada 2025.

Berdasarkan catatan DGHS, sebanyak 413 orang meninggal pada 2025.

Pada periode tersebut, Bangladesh mencatat 102.861 pasien dengue yang masuk rumah sakit.

Sementara itu, pada 2024, jumlah kematian mencapai 575 orang.

Bangladesh pernah menghadapi wabah jauh lebih besar pada 2023, ketika 1.705 orang meninggal dan 321.179 pasien menjalani perawatan rumah sakit.

Dengan demikian, 419 kematian hingga Oktober 2026 menjadi angka tahunan tertinggi ketiga dalam catatan tersebut.

Meski begitu, angka 2026 belum melampaui rekor kematian sepanjang sejarah Bangladesh.

Empat Jenis Virus

Para ahli juga menyoroti peredaran empat serotipe virus dengue, yaitu DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4.

Seseorang dapat terinfeksi dengue lebih dari sekali sepanjang hidupnya.

Infeksi berikutnya dengan serotipe berbeda dapat meningkatkan risiko DBD berat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa infeksi berulang merupakan salah satu faktor risiko penyakit berat.

Namun, tidak semua orang yang mengalami infeksi kedua akan mengalami komplikasi serius.

Ancaman lain berasal dari perubahan pola cuaca.

Pakar entomologi Universitas Jahangirnagar, Kabirul Bashar, memperkirakan penularan masih berlangsung sepanjang November.

Menurutnya, genangan air dari hujan sebelumnya tetap memungkinkan nyamuk berkembang biak.

Perubahan suhu, curah hujan, dan kelembapan juga dapat memperpanjang aktivitas nyamuk pembawa virus dengue.

WHO turut mengidentifikasi perubahan iklim, urbanisasi, dan peredaran berbagai serotipe sebagai faktor penting dalam penyebaran dengue secara global.

Kenali Tanda Bahaya DBD

Lonjakan kematian di Bangladesh menjadi pengingat pentingnya mengenali tanda bahaya dengue.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menjelaskan bahwa kondisi pasien dapat memburuk ketika demam mulai turun.

Fase kritis biasanya berlangsung sekitar 24–48 jam dan dapat disertai kebocoran plasma serta gangguan sirkulasi.

Nyeri perut berat, muntah terus-menerus, perdarahan, dan penurunan kesadaran membutuhkan pemeriksaan medis segera.

Pasien juga perlu mendapatkan penilaian cepat apabila mengalami tanda gangguan sirkulasi atau syok.

Hingga kini, belum tersedia obat antivirus khusus untuk menyembuhkan dengue.

Penanganan berfokus pada pemantauan kondisi pasien, kecukupan cairan, dan terapi suportif sesuai tingkat keparahan.

WHO dan CDC menganjurkan penggunaan parasetamol untuk membantu meredakan demam.

Sebaliknya, aspirin dan ibuprofen perlu dihindari karena dapat meningkatkan risiko perdarahan.

Pencegahan tetap mengandalkan pengendalian tempat perkembangbiakan nyamuk, perlindungan dari gigitan, serta deteksi dini infeksi.

WHO juga telah memberikan rekomendasi penggunaan vaksin dengue pada kelompok usia tertentu di wilayah dengan penularan tinggi.

Namun, kebijakan vaksinasi bergantung pada kondisi epidemiologi setiap negara.

Bagi Bangladesh, persoalan utama kini bukan sekadar menurunkan jumlah nyamuk.

Negara tersebut juga menghadapi tantangan memastikan pasien mendapatkan pemeriksaan dan penanganan sebelum memasuki kondisi kritis.

Selama penularan masih berlangsung, kesiapan layanan kesehatan dan kecepatan pertolongan menjadi faktor penting untuk menekan kematian akibat dengue.


Baca juga: Penyakit Tak Ditanggung BPJS Kesehatan per Januari 2026