- Pencurian terbesar: Peretas mencuri aset kripto sekitar US$6,3 miliar dari Binance. Sebagian besar pencurian berlangsung sekitar 20 menit.
- Celah keamanan: Penyelidikan mengarah pada dugaan penyalahgunaan sistem otorisasi transaksi. Binance belum memastikan seluruh penyebab serangan.
- Dana dibekukan: Binance melaporkan sekitar US$3 miliar aset curian telah dibekukan. Perusahaan menyiapkan dana pengganti lebih dari US$6,34 miliar.
- Bursa dunia siaga: Coinbase memperkuat pengamanan, Kraken meningkatkan kewaspadaan, sedangkan OKX mendorong sistem peringatan bersama.
JAMLIMA.COM, JAKARTA — Peretasan Binance senilai US$6,3 miliar mengguncang industri aset digital dunia.
Serangan tersebut mengungkap risiko keamanan pada sistem yang mengizinkan perpindahan dana kripto.
Sebagian besar pencurian berlangsung sekitar 20 menit. Namun, penyelidikan menunjukkan peretas masih menjalankan sejumlah transaksi setelah serangan utama.
Insiden ini menjadi pencurian aset kripto terbesar yang pernah tercatat. Selain menghentikan sementara layanan penarikan, Binance menghadapi tekanan untuk membuktikan keamanan dana penggunanya.
Associated Press dan Reuters melaporkan serangan tersebut pada Jumat (30/10/2026). Binance kemudian mengonfirmasi nilai aset yang dicuri dan langkah penanganannya.
Baca juga: Agen AI Coba Bobol Situs Pemerintah AS dan Kanada, Ratusan Ribu Permintaan Terdeteksi
Peretas Kuras Aset Binance dalam 20 Menit
Serangan bermula Kamis (29/10/2026), sekitar pukul 20.05 UTC. Waktu tersebut bertepatan dengan Jumat (30/10/2026), pukul 04.05 WITA.
Peretas menargetkan hot wallet, yakni dompet digital yang terhubung ke internet untuk memproses transaksi.
Perusahaan analisis TRM Labs memperkirakan nilai pencurian mencapai US$6,36 miliar.
Sementara itu, Elliptic mencatat sekitar US$6,43 miliar berdasarkan analisis pergerakan aset digital. Perbedaan tersebut mencerminkan metode penghitungan dan penilaian aset.
Kedua lembaga menempatkan insiden Binance sebagai pencurian kripto terbesar yang pernah mereka telusuri.
Analisis Bitquery menemukan transaksi tidak sah dari sejumlah dompet Binance melalui berbagai jaringan blockchain.
Arkham Intelligence juga menelusuri perpindahan aset ke alamat yang diduga dikuasai pelaku.
Adapun CryptoSlate mencatat indikasi persiapan serangan berlangsung sedikitnya 36 jam sebelum pencurian utama.
Sistem Otorisasi Transaksi Jadi Sorotan
Penyelidikan awal Binance mengarah pada kemungkinan penyusupan laptop seorang teknisi DevOps.
Akses tersebut diduga memungkinkan peretas memasuki sistem internal dan mengirim perintah penarikan tanpa izin.
Namun, Binance kemudian menemukan titik penyusupan tambahan.
Perusahaan menyatakan belum menemukan bukti kebocoran kunci privat dompet digital.
Karena itu, penyebab keseluruhan serangan belum dapat dipastikan.
Perusahaan keamanan Hacken menilai pola transaksi menunjukkan kemungkinan penyalahgunaan sistem yang mengesahkan perpindahan aset.
Sementara itu, Cointelegraph mengutip analisis Blockaid mengenai penggunaan izin transaksi melalui fitur EIP-7702 pada jaringan Ethereum.
Fitur tersebut memungkinkan dompet menjalankan fungsi tambahan melalui program khusus.
Dalam serangan ini, penyelidik menduga pelaku menyalahgunakan otorisasi untuk mengendalikan sebagian transaksi.
CoinDesk melaporkan penggunaan izin tersebut memungkinkan peretas menguras sekitar US$2,5 miliar dari satu dompet Ethereum.
The Block dan Decrypt juga menyoroti risiko ketika sistem persetujuan transaksi jatuh ke tangan pihak tidak berwenang.
Temuan itu tidak berarti jaringan Bitcoin atau Ethereum berhasil dibobol. Penyidikan berfokus pada akses dan otorisasi transaksi di lingkungan Binance.
Binance Siapkan US$6,34 Miliar untuk Menutup Kerugian
Binance menyatakan akan menanggung seluruh dampak finansial pencurian melalui dana perusahaan dan Secure Asset Fund for Users (SAFU).
Dalam pengumuman resmi tertanggal 30 Oktober 2026, perusahaan menegaskan komitmen tersebut.
“Binance akan menanggung dampak finansial dari dana yang dicuri, bukan membebankannya kepada pengguna,” demikian pernyataan perusahaan yang diterjemahkan dari pengumuman resminya.
Binance menyebut telah menyiapkan lebih dari US$6,34 miliar.
Dari jumlah tersebut, sekitar US$5 miliar sudah tersedia dalam jenis aset digital yang terdampak. Nilainya setara sekitar 80 persen dari aset yang perlu diganti.
Perusahaan masih membeli aset yang diperlukan untuk memenuhi sisa kebutuhan.
Selain itu, Binance melaporkan sekitar US$3 miliar aset curian telah dibekukan melalui kerja sama dengan mitra industri.
Namun, aset yang dibekukan belum tentu berhasil dikembalikan.
Pembekuan membatasi perpindahan dana. Sebaliknya, pemulihan membutuhkan proses lanjutan untuk memastikan aset kembali kepada pihak yang berhak.
WIRED melaporkan penerbit stablecoin turut membantu membekukan sebagian aset.
The Guardian menyoroti tantangan pemulihan karena tidak semua jenis mata uang kripto dapat dibekukan melalui penerbit terpusat.
Coinbase dan Kraken Perketat Keamanan
Dampak peretasan Binance meluas ke perusahaan perdagangan aset digital lainnya.
Reuters melaporkan Coinbase melakukan penyesuaian pada sistem penyimpanan kunci kripto secara luring sebagai langkah pencegahan.
Sementara itu, Kraken memantau perkembangan serangan untuk mencari kemungkinan kelemahan yang perlu diperbaiki.
CEO OKX, Star Xu, menyerukan pembentukan sistem peringatan keamanan bersama.
Menurut Xu, industri membutuhkan mekanisme berbagi informasi secara langsung ketika serangan terjadi.
Sistem tersebut diharapkan membantu perusahaan mengidentifikasi transaksi mencurigakan dan mempercepat koordinasi pembekuan dana.
Chris Perkins, kepala divisi kripto Franklin Templeton, juga menekankan pentingnya tindakan keamanan segera.
“Situasi keamanan harus segera ditangani agar kripto mencapai potensi penuhnya,” kata Perkins, sebagaimana dikutip Reuters.
Peristiwa ini menambah tekanan terhadap industri yang semakin terhubung dengan sistem keuangan global.
Bloomberg menilai serangan tersebut memperlihatkan bahwa besarnya perusahaan tidak menjamin sistemnya kebal terhadap penyusupan.
Pasar Kripto Tertekan, Investor Menunggu Kepastian
Serangan Binance turut menekan harga sejumlah aset digital.
CNBC melaporkan Bitcoin sempat turun lebih dari empat persen ketika kekhawatiran terhadap keamanan perdagangan meningkat.
Sementara itu, The Wall Street Journal mencatat pembekuan aset dan penghentian sementara transaksi menjadi bagian penting dari respons darurat Binance.
Gangguan tersebut menambah ketidakpastian bagi investor yang menyimpan aset melalui bursa terpusat.
Meski demikian, pencurian di sebuah bursa tidak otomatis menunjukkan kegagalan sistem dasar mata uang kripto.
Risiko yang muncul juga berkaitan dengan pengelolaan dompet, pengamanan perangkat, dan prosedur persetujuan transaksi.
Dugaan Peretas Korea Utara Belum Dipastikan
Sejumlah perusahaan analisis mengaitkan serangan Binance dengan kelompok peretas TraderTraitor yang diduga berhubungan dengan Korea Utara.
TRM Labs menyatakan memiliki tingkat keyakinan tinggi terhadap dugaan tersebut.
Namun, Binance belum mengumumkan identitas pelaku berdasarkan kesimpulan penyelidikan final.
TechCrunch melaporkan bahwa kelompok tersebut sebelumnya dikaitkan dengan pencurian aset kripto bernilai besar.
The Washington Post juga menegaskan bahwa mekanisme penyusupan Binance belum sepenuhnya terungkap.
Sementara itu, Financial Times menyoroti dugaan penggunaan akses internal dan transaksi otomatis dalam serangan tersebut.
Dengan demikian, keterlibatan Korea Utara masih merupakan atribusi perusahaan keamanan, bukan keputusan resmi yang telah memastikan identitas pelaku.
Keamanan Dana Pengguna Menjadi Ujian Berikutnya
Binance menargetkan pemulihan layanan penarikan secara bertahap setelah pemeriksaan keamanan selesai.
Perusahaan juga berencana menerbitkan laporan terbaru Proof of Reserves pada Senin (2/11/2026).
Laporan tersebut bertujuan memperlihatkan kepemilikan aset dan cadangan yang mendukung saldo pengguna.
Selain itu, Binance menjanjikan laporan teknis untuk menjelaskan penyebab serangan serta langkah pencegahan.
Namun, laporan cadangan tidak dengan sendirinya membuktikan seluruh sistem keamanan bebas dari kerentanan.
Hingga Sabtu (31/10/2026), penyelidikan masih berlangsung. Pemulihan layanan dan pengembalian seluruh aset belum dapat dinyatakan selesai.
Kasus Binance kini menjadi ujian penting bagi keamanan bursa kripto dunia. Industri tidak cukup hanya menyiapkan dana pengganti, tetapi juga harus memperkuat sistem yang mengizinkan transaksi sejak awal.
Baca juga:Deepfake hingga Kloning Suara, Kejahatan AI Bergerak Makin Cepat




































