- BGN menelusuri bumbu kacang sate olahan pihak ketiga sebagai dugaan penyebab gangguan kesehatan setelah konsumsi MBG di Bogor.
- Penggunaan bumbu siap pakai dinilai tidak sesuai prosedur pengolahan makanan SPPG Dramaga 4.
- Polisi mencatat 489 laporan keluhan dari siswa dan guru. BGN menyampaikan data observasi medis yang berbeda.
- BGN menghentikan operasional dapur dan mencopot kepala SPPG terkait. Penyebab pasti masih menunggu hasil laboratorium.
JAMLIMA.COM, BOGOR — Bumbu kacang sate yang diolah pihak ketiga menjadi sorotan dalam kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Badan Gizi Nasional (BGN) menemukan penggunaan bumbu siap pakai yang dinilai tidak sesuai prosedur pengolahan makanan.
Temuan awal tersebut muncul setelah ratusan siswa dan guru mengalami gangguan kesehatan seusai mengonsumsi MBG pada Senin (26/10/2026).
Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Bogor, Haidir, menjelaskan bahwa bumbu kacang telah diolah sebelum diterima dapur SPPG Dramaga 4.
“Berdasarkan investigasi awal, dugaan sementara mengarah pada penggunaan bumbu kacang yang telah diolah oleh pihak ketiga sebelum digunakan oleh SPPG Dramaga 4,” kata Haidir, Rabu (28/10/2026).
Namun, BGN belum memastikan bumbu tersebut sebagai penyebab keracunan. Sampel makanan masih menjalani pemeriksaan laboratorium.
Bumbu Siap Pakai Dinilai Langgar Prosedur
Kepala BGN Sudaryono menyoroti pembelian bahan makanan yang sudah matang atau diolah di luar dapur.
Menurutnya, praktik tersebut menyulitkan pengawasan kebersihan dan waktu pengolahan.
“Di Bogor, diduga karena membeli bumbu kacang sate barang jadi,” ujar Sudaryono, Rabu (28/10/2026).
BGN menilai pengelola dapur seharusnya dapat mengawasi seluruh proses pengolahan bahan makanan.
Karena itu, penggunaan bumbu olahan pihak ketiga menjadi fokus evaluasi keamanan pangan.
BGN kemudian menghentikan sementara operasional SPPG Dramaga 4 hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Sudaryono juga menyatakan telah mencopot kepala SPPG terkait kasus di Bogor dan Cirebon.
Polisi Catat 489 Laporan Keluhan
Kasus bermula setelah siswa menerima menu MBG pada Senin (26/10/2026).
Makanan yang dibagikan mencakup nasi, tempe orek, sate ayam, dan buah.
Kemudian, sekitar pukul 23.00 WIB, sejumlah siswa mengalami muntah, sakit perut, dan tubuh lemas.
Bupati Bogor Rudy Susmanto menyebut 481 siswa dan guru mencari pertolongan medis pada Selasa (27/10/2026).
Sebanyak 22 orang memerlukan rujukan rumah sakit.
Selanjutnya, Kapolsek Dramaga Iptu Agripinus Motani Zalukhu memperbarui jumlah laporan menjadi 489 orang.
“Total yang kami catat ada 489 siswa dan guru,” katanya.
Namun, Rudy menegaskan bahwa seluruh laporan keluhan tersebut belum tentu merupakan kasus keracunan akibat MBG.
BGN Sampaikan Data Berbeda
Juru Bicara BGN Tysa Novenny menyampaikan bahwa 40 siswa sempat memerlukan observasi medis.
Hingga Selasa (27/10/2026) pukul 23.42 WIB, sebanyak 13 siswa masih menjalani observasi di dua rumah sakit.
BGN membantah informasi mengenai lebih dari 400 siswa yang disebut menjadi korban keracunan.
Meski demikian, angka kepolisian dan BGN menggunakan cakupan pendataan berbeda.
Kepolisian menghitung laporan keluhan kesehatan. Sementara itu, BGN menyampaikan jumlah siswa yang menjalani observasi medis.
Dengan demikian, angka tersebut belum dapat digunakan untuk menetapkan jumlah kasus keracunan yang terkonfirmasi.
Hasil Laboratorium Jadi Penentu
BGN masih menyelidiki hubungan antara makanan yang dibagikan dan gangguan kesehatan para siswa.
Tysa memastikan sampel makanan telah dikirim untuk pemeriksaan.
“Sampel makanan telah dibawa untuk diperiksa di laboratorium,” katanya.
Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk memastikan sumber gangguan kesehatan, termasuk kemungkinan kontaminasi makanan.
Sementara itu, temuan penggunaan bumbu olahan pihak ketiga menjadi dasar evaluasi prosedur dapur.
Kasus Dramaga sekaligus menyoroti pentingnya pengawasan bahan makanan sebelum disajikan kepada penerima MBG.
Hingga Kamis (29/10/2026), sumber resmi yang diperiksa belum memuat hasil laboratorium yang memastikan penyebab kejadian.
Baca juga: Kilas Update Dugaan Keracunan MBG di Karo: 354 Siswa Terdampak, Penyimpanan Ikan Disorot





































