Scroll untuk baca artikel
Internasional

700 Ribu Anak Gaza Kehilangan Sekolah Layak, 200 Ribu Belum Belajar

×

700 Ribu Anak Gaza Kehilangan Sekolah Layak, 200 Ribu Belum Belajar

Sebarkan artikel ini
anak-anak gaza mengikuti pembelajaran sementara di tengah kerusakan gedung sekolah
PENDIDIKAN ANAK GAZA — Ilustrasi anak-anak Gaza mengikuti pembelajaran di ruang kelas sementara setelah kerusakan luas gedung sekolah. Sekitar 200.000 anak masih belum mendapat akses pembelajaran terstruktur hingga Oktober 2026. (Foto: Ilustrasi/Jamlima.com)

  • 700.000 anak terdampak. Perwakilan Rusia di PBB menyebut kerusakan sekolah menghilangkan akses pendidikan layak bagi anak-anak Gaza sejak 2023.
  • 200.000 anak belum belajar. Data OCHA pada Oktober 2026 menunjukkan ratusan ribu anak masih tanpa pembelajaran terstruktur.
  • 564.000 anak terdaftar. Sebanyak 695 ruang belajar sementara menampung anak-anak Gaza, tetapi belum menggantikan sekolah formal.
  • 98 persen sekolah rusak. UNICEF mencatat hampir seluruh gedung sekolah Gaza mengalami kerusakan. Pemulihan membutuhkan pembangunan kembali dan dukungan psikososial.

JAMLIMA.COM, NEW YORK — Krisis pendidikan anak Gaza belum berakhir meski ratusan ribu siswa mulai mengikuti pembelajaran darurat.

Sekitar 700.000 anak kehilangan akses pendidikan formal yang layak sejak perang meningkat pada Oktober 2023.

Sementara itu, sekitar 200.000 anak masih belum memperoleh pembelajaran terstruktur hingga Oktober 2026.

Kondisi tersebut memperlihatkan persoalan mendasar dalam pemulihan pendidikan Gaza. Bertambahnya kelas sementara belum berarti sistem sekolah telah pulih.

Perwakilan Tetap Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, menyoroti kondisi itu dalam sidang Dewan Keamanan PBB, Senin (26/10/2026).

“Sejak 2023, sistem pendidikan Gaza praktis hancur,” ujar Nebenzia dalam pernyataan resmi yang diterjemahkan dari bahasa Inggris.

Menurut Nebenzia, kerusakan dan kehancuran sekolah menyebabkan sekitar 700.000 anak usia sekolah kehilangan pendidikan yang layak.

Pernyataan itu sejalan dengan laporan UNICEF mengenai gangguan pendidikan formal yang berlangsung hampir tiga tahun ajaran.

Baca juga: Wakil Komandan ISF, Indonesia Kirim 8.000 Personel ke Gaza

Sekolah Darurat Belum Menjangkau Semua Anak

Kondisi pendidikan Gaza sebenarnya mulai menunjukkan perkembangan pada September 2026.

Tahun ajaran baru dimulai pada 19 September. Namun, sebagian besar kegiatan berlangsung di ruang belajar sementara.

Laporan OCHA tertanggal 15 Oktober 2026 mencatat 695 ruang belajar sementara telah beroperasi.

Fasilitas tersebut menampung sekitar 564.000 anak, termasuk 18.985 anak penyandang disabilitas.

Meski demikian, sekitar 200.000 anak masih belum mendapatkan akses pembelajaran terstruktur.

Angka itu menunjukkan kesenjangan antara pembukaan fasilitas pendidikan dan pemerataan layanan belajar.

UNICEF juga menegaskan bahwa pembelajaran darurat belum setara dengan sekolah formal.

Sebagai gambaran, sebuah kompleks pendidikan sementara di Kota Gaza menggunakan 20 tenda untuk melayani sekitar 4.000 siswa.

Anak-anak mengikuti pembelajaran bergiliran, masing-masing tiga hari setiap pekan.

Artinya, sebagian siswa telah kembali belajar, tetapi belum memperoleh jadwal pendidikan normal.

Hampir Seluruh Gedung Sekolah Gaza Rusak

Kerusakan infrastruktur menjadi hambatan terbesar dalam pemulihan pendidikan.

UNICEF melaporkan hampir 98 persen gedung sekolah Gaza mengalami kerusakan hingga April 2026.

Lebih dari 93 persen membutuhkan rehabilitasi besar atau pembangunan kembali. Selain itu, sekitar 81 persen gedung sekolah mengalami serangan langsung.

Kondisi tersebut membatasi ketersediaan ruang kelas yang aman.

Karena itu, penyelenggara pendidikan menggunakan tenda, bangunan sementara, dan fasilitas alternatif.

Namun, penggunaan ruang darurat menghadapi keterbatasan fasilitas belajar, perlengkapan, serta kapasitas pengajaran.

Penilaian kerusakan yang diterbitkan Bank Dunia, PBB, dan Uni Eropa pada April 2026 juga menunjukkan besarnya kebutuhan pemulihan Gaza.

Anak Gaza Ingin Kembali ke Sekolah Sebenarnya

Di tengah kerusakan tersebut, anak-anak Gaza tetap berusaha melanjutkan pendidikan.

UNICEF mencatat pengalaman Eid, anak berusia 11 tahun yang kini belajar dalam tenda.

“Sekolah lama saya berada di gedung, tetapi sekarang saya belajar di tenda,” ungkap Eid dalam kesaksian yang dipublikasikan UNICEF.

Ia berharap sekolahnya kembali menjadi bangunan yang aman dan tidak rusak.

Sementara itu, Maryam, 10 tahun, mengaku merindukan kegiatan membaca, menulis, dan belajar bersama teman-temannya.

Pengalaman mereka menunjukkan bahwa ruang kelas memiliki fungsi lebih luas daripada tempat menerima pelajaran.

Sekolah juga membantu anak membangun rutinitas, berinteraksi dengan teman sebaya, serta memperoleh dukungan emosional.

Ancaman Keamanan Masih Membayangi Pendidikan

Pemulihan pendidikan juga menghadapi persoalan keselamatan.

UNICEF melaporkan seorang anak berusia 14 tahun bernama Mohamed tewas setelah diduga terkena serangan pesawat nirawak pada 17 Oktober 2026.

Peristiwa tersebut terjadi ketika Mohamed berjalan pulang dari pusat pembelajaran yang didukung UNICEF di Deir al-Balah.

Direktur Regional UNICEF untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Edouard Beigbeder, meminta perlindungan terhadap anak-anak.

“Anak-anak harus dilindungi di mana pun mereka berada,” tegas Beigbeder dalam pernyataan tertanggal 20 Oktober 2026.

Laporan OCHA yang terbit pada 26 Oktober turut mencatat kekerasan terhadap warga sipil masih berlangsung di Gaza.

Dengan demikian, pemulihan sekolah membutuhkan lingkungan yang aman, bukan sekadar tambahan ruang kelas.

Anggaran Pendidikan Darurat Masih Terbatas

Di sisi lain, keterbatasan pendanaan menghambat perluasan layanan pendidikan.

OCHA mencatat sektor pendidikan baru menerima sekitar 13 persen dari kebutuhan pendanaan sebesar 170,8 juta dolar AS per 25 September 2026.

Kekurangan dana tersebut mengancam keberlanjutan ratusan ruang belajar sementara.

Selain pembiayaan, kegiatan pendidikan masih menghadapi hambatan distribusi buku, kertas, dan perlengkapan sekolah.

UNICEF bersama mitranya terus mengembangkan program Back to Learning untuk membantu anak kembali belajar.

Program tersebut menggabungkan pendidikan dasar, kegiatan sosial, dan dukungan kesehatan mental.

Namun, UNICEF menegaskan bahwa pembelajaran darurat merupakan jembatan menuju pemulihan sekolah formal, bukan penggantinya.

Pendidikan Gaza Membutuhkan Pemulihan Menyeluruh

UNESCO turut memperluas dukungan pendidikan melalui fasilitas belajar sementara.

Hingga pertengahan Oktober 2026, lebih dari 6.000 anak memperoleh akses pembelajaran melalui 12 fasilitas yang didukung UNESCO.

Lembaga tersebut juga membantu mahasiswa melanjutkan pendidikan melalui pusat pembelajaran alternatif.

Sementara itu, UNICEF menekankan pentingnya pemulihan layanan pendidikan yang aman dan berkelanjutan.

Kondisi Gaza memperlihatkan dua kenyataan berbeda.

Sebagian anak mulai kembali mengikuti pelajaran setelah kehilangan sekolah selama bertahun-tahun.

Namun, sebagian lainnya masih berada di luar jangkauan pendidikan.

Karena itu, angka 700.000 anak yang kehilangan sekolah formal tidak berarti seluruhnya sama sekali tidak belajar saat ini.

Sebagian telah mengikuti pembelajaran sementara. Sebaliknya, sekitar 200.000 anak masih belum memperoleh akses belajar terstruktur.

Pemulihan pendidikan Gaza tidak cukup diukur dari jumlah kelas yang kembali dibuka.

Ukuran yang lebih penting ialah kemampuan setiap anak memperoleh pembelajaran yang aman, teratur, dan berkelanjutan.


Baca juga: Pemenang Nobel Perdamaian 2026 Desak Netanyahu Diadili atas Dugaan Penghasutan Genosida Gaza