Scroll untuk baca artikel
Sehat

Pakai Masker Bisa Tekan Penularan Influenza A, Ini Penjelasan Medisnya

×

Pakai Masker Bisa Tekan Penularan Influenza A, Ini Penjelasan Medisnya

Sebarkan artikel ini
Penggunaan masker medis untuk membantu mengurangi penularan virus influenza A melalui partikel pernapasan.
PENCEGAHAN INFLUENZA A — Penggunaan masker membantu mengurangi penyebaran partikel pernapasan yang dapat membawa virus influenza A. (Foto: Ilustrasi/Jamlima.com)

  • Masker membantu mengurangi penyebaran influenza A melalui partikel pernapasan saat penderita batuk, bersin, atau berbicara.
  • Masker medis dan respirator N95 memberikan perlindungan berbeda. Kerapatan masker pada wajah turut menentukan efektivitasnya.
  • Penderita influenza dapat menularkan virus sejak sehari sebelum gejala muncul hingga sekitar lima sampai tujuh hari setelah sakit.
  • WHO dan CDC menganjurkan pencegahan berlapis melalui vaksinasi, penggunaan masker sesuai risiko, kebersihan tangan, dan ventilasi.

JAMLIMA.COM, JAKARTA — Penggunaan masker dapat membantu mengurangi penyebaran virus influenza tipe A. Masker membatasi pelepasan partikel pernapasan dari penderita sekaligus mengurangi paparan bagi orang di sekitarnya.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) kembali menegaskan manfaat tersebut dalam pedoman pencegahan influenza yang diperbarui pada 1 September 2026.

CDC menjelaskan bahwa masker merupakan perlindungan tambahan terhadap infeksi saluran pernapasan.

Manfaatnya meningkat ketika masyarakat menggunakan masker yang sesuai dan terpasang rapat.

Namun, masker tidak memberikan perlindungan mutlak.

Vaksinasi dan langkah pencegahan lain tetap diperlukan untuk menekan risiko infeksi.

Bagaimana Influenza A Menular?

Influenza A merupakan virus penyebab infeksi saluran pernapasan yang dapat menyerang hidung, tenggorokan, dan paru-paru.

Virus ini menyebar terutama melalui partikel pernapasan yang keluar saat penderita batuk, bersin, berbicara, atau bernapas.

Partikel tersebut dapat mencapai orang lain melalui udara, terutama ketika mereka berada dalam jarak dekat.

Risiko penularan juga meningkat di ruangan tertutup yang ramai dan memiliki ventilasi buruk.

CDC menjelaskan bahwa seseorang dapat menularkan influenza sebelum menyadari dirinya terinfeksi.

Pada orang dewasa, penularan dapat dimulai sekitar satu hari sebelum gejala muncul.

Virus kemudian masih dapat menyebar selama lima hingga tujuh hari setelah sakit.

Sementara itu, anak-anak dan penderita gangguan kekebalan tubuh dapat menularkan virus lebih lama.

Kondisi tersebut menjelaskan pentingnya pencegahan sejak muncul gejala awal.


Baca juga: Influenza Meningkat di Indonesia, Anak dan Lansia Perlu Lebih Diwaspadai


Masker Mengurangi Penyebaran Virus

CDC menjelaskan dua manfaat utama penggunaan masker dalam mencegah penularan virus pernapasan.

Pertama, masker membantu menahan partikel infeksius yang keluar dari penderita.

Mekanisme ini dikenal sebagai source control atau pengendalian sumber penularan.

Kedua, masker mengurangi jumlah partikel infeksius yang terhirup pemakainya.

Dalam panduan penggunaan masker yang diperbarui pada 18 Agustus 2025, CDC menyatakan:

“Masker dapat membantu menurunkan risiko penularan virus pernapasan.”

Pernyataan tersebut merupakan terjemahan dari penjelasan resmi CDC mengenai pencegahan penyakit pernapasan.

Namun, tingkat perlindungan bergantung pada jenis masker, kerapatan, dan konsistensi penggunaannya.

Masker N95 dan Masker Medis, Mana Lebih Efektif?

CDC menjelaskan bahwa setiap jenis masker memiliki kemampuan filtrasi yang berbeda.

Respirator N95 menawarkan perlindungan lebih tinggi ketika pengguna memasangnya dengan benar dan memastikan tidak ada kebocoran udara di tepinya.

Masker KN95 juga dapat memberikan perlindungan tinggi apabila memenuhi standar dan terpasang rapat.

Sementara itu, masker medis membantu mengurangi pelepasan partikel pernapasan serta paparan dari lingkungan sekitar.

Masker kain umumnya memberikan perlindungan lebih rendah. Efektivitasnya bergantung pada bahan, jumlah lapisan, dan desain.

Meski demikian, penggunaan masker berkualitas tidak otomatis menghilangkan risiko tertular influenza A.

Penelitian Menunjukkan Hasil Beragam

Sejumlah penelitian mendukung penggunaan masker sebagai bagian dari pencegahan influenza.

Namun, hasil penelitian mengenai besarnya perlindungan masih bervariasi.

Penelitian Benjamin J. Cowling dan rekan-rekannya di Hong Kong pada 2009 menilai penggunaan masker dan kebersihan tangan dalam rumah tangga.

Penelitian tersebut menemukan indikasi manfaat ketika intervensi diterapkan sejak awal munculnya gejala.

Namun, analisis utama penelitian tidak menunjukkan penurunan penularan yang bermakna secara statistik.

Kajian sistematis yang terbit pada 2024 juga menemukan keterbatasan bukti dari uji acak .

Hal ini mengenai efektivitas masker dan kebersihan tangan di rumah tangga.

Temuan itu tidak berarti masker tidak bermanfaat.

Sebaliknya, hasil tersebut menunjukkan bahwa efektivitas di dunia nyata dipengaruhi kepatuhan, waktu penggunaan, dan kondisi paparan.

Karena itu, lembaga kesehatan tetap menempatkan masker sebagai bagian dari strategi pencegahan berlapis.

Kapan Masyarakat Perlu Menggunakan Masker?

CDC menganjurkan penggunaan masker sebagai perlindungan tambahan dalam situasi tertentu.

Penggunaan masker terutama bermanfaat bagi orang yang mengalami batuk, pilek, demam, atau gejala infeksi pernapasan.

Selain itu, masker dapat membantu melindungi masyarakat saat berada di tempat ramai atau berinteraksi dengan kelompok berisiko tinggi.

Kelompok tersebut mencakup lansia, ibu hamil, anak kecil, dan penderita penyakit kronis.

Di fasilitas kesehatan, petugas perlu menerapkan kewaspadaan standar dan kewaspadaan droplet sesuai risiko penularan.

CDC memperbarui pedoman pengendalian influenza di fasilitas kesehatan pada 29 September 2026.

Pedoman tersebut menekankan penggunaan masker pada pasien bergejala, pemisahan pasien, kebersihan tangan, dan alat pelindung diri bagi tenaga kesehatan.

Influenza A Bisa Menyebabkan Komplikasi

Influenza A umumnya menimbulkan demam, batuk, nyeri tenggorokan, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan.

Sebagian penderita juga mengalami pilek atau hidung tersumbat.

Gejala biasanya muncul sekitar satu hingga empat hari setelah seseorang terinfeksi.

Sebagian besar pasien dapat pulih tanpa pengobatan khusus.

Namun, influenza juga dapat menyebabkan pneumonia dan komplikasi serius.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan influenza musiman menyebabkan sekitar satu miliar kasus setiap tahun di seluruh dunia.

Dari jumlah tersebut, sekitar tiga hingga lima juta kasus berkembang menjadi penyakit berat.

WHO juga memperkirakan influenza musiman berkaitan dengan 290.000 hingga 650.000 kematian akibat gangguan pernapasan setiap tahun.

Angka tersebut merupakan estimasi global influenza musiman, bukan jumlah kasus influenza A di Indonesia pada Oktober 2026.

Vaksinasi Tetap Menjadi Pencegahan Utama

WHO menempatkan vaksinasi sebagai langkah utama untuk mencegah influenza dan mengurangi komplikasinya.

CDC juga menganjurkan vaksinasi influenza setiap tahun, terutama bagi kelompok yang berisiko mengalami penyakit berat.

Selain vaksinasi, masyarakat perlu menjaga kebersihan tangan dan memperbaiki sirkulasi udara.

Penderita infeksi pernapasan sebaiknya beristirahat di rumah hingga gejala membaik dan bebas demam selama sedikitnya 24 jam tanpa obat penurun panas.

Setelah kembali beraktivitas, CDC menganjurkan kewaspadaan tambahan selama lima hari berikutnya.

Langkah tersebut dapat mencakup penggunaan masker, menjaga jarak, dan menghindari kontak dekat dengan kelompok rentan.

Sementara itu, pasien yang mengalami sesak napas, nyeri dada, atau perburukan kondisi perlu segera mencari pertolongan medis.

Pengobatan antivirus juga dapat diperlukan, terutama bagi pasien berisiko tinggi atau yang mengalami influenza berat.

Dengan demikian, penggunaan masker tetap memiliki peran penting dalam pencegahan influenza A.

Namun, perlindungan terbaik memerlukan kombinasi masker yang sesuai, vaksinasi, ventilasi, dan perilaku hidup bersih.

Pencegahan sejak dini dapat membantu mengurangi penularan sekaligus melindungi masyarakat yang rentan mengalami komplikasi.


Baca juga: Superflu Jadi Perhatian di 2026, Ini Perbedaannya dengan COVID-19