Scroll untuk baca artikel
Sehat

WHO Tetapkan Formula Vaksin Influenza 2027, H3N2 dan B/Victoria Berubah

×

WHO Tetapkan Formula Vaksin Influenza 2027, H3N2 dan B/Victoria Berubah

Sebarkan artikel ini
WHO memperbarui vaksin influenza 2027 untuk H3N2 dan B/Victoria
VAKSIN INFLUENZA 2027 — Pertemuan WHO terkait pembaruan formula vaksin influenza 2027. WHO memperbarui komponen H3N2 dan B/Victoria, sementara data Kemenkes menunjukkan H1N1pdm09, H3N2, dan B/Victoria masih beredar di Indonesia. (Foto: Ilustrasi/Jamlima.com)

  • WHO menetapkan vaksin influenza 2027 belahan bumi selatan dengan komponen A(H1N1)pdm09, A(H3N2), dan B/Victoria.
  • Komponen H3N2 dan B/Victoria berubah dibandingkan formula 2026, sedangkan H1N1pdm09 tetap menggunakan A/Missouri/11/2025.
  • Surveilans Kemenkes menemukan H1N1pdm09, H3N2, dan B/Victoria masih beredar di Indonesia.
  • Indonesia perlu mencermati kesesuaian formula, waktu vaksinasi, registrasi, dan pasokan vaksin menuju 2027.

JAMLIMA.COM, JAKARTA — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperbarui formula vaksin influenza untuk musim 2027.

H3N2 dan B/Victoria berubah, sementara data Indonesia menunjukkan H1N1, H3N2, dan B/Victoria masih beredar.

Informasi itu diumumkan Jumat, (25/9/2026), setelah konsultasi internasional di Lyon, Prancis, pada 21–24 September 2026.

WHO merekomendasikan vaksin trivalen yang melindungi terhadap A(H1N1)pdm09, A(H3N2), dan influenza B garis keturunan Victoria.

Untuk vaksin berbasis telur, WHO memilih A/Missouri/11/2025, A/Darwin/1454/2025, dan B/Tokyo/EIS13-175/2025.

Sementara itu, vaksin berbasis kultur sel, protein rekombinan, atau asam nukleat menggunakan A/Missouri/11/2025, A/Darwin/1415/2025, dan B/Pennsylvania/14/2025.

WHO memperbarui komposisi vaksin karena virus influenza terus mengalami perubahan genetik dan antigenik.

Rekomendasi itu menjadi rujukan bagi regulator dan produsen dalam menyiapkan vaksin untuk musim berikutnya.

Direktur Epidemic and Pandemic Management WHO, Dr Maria Van Kerkhove, menekankan pentingnya jaringan laboratorium global.

“Komitmen negara dan laboratorium untuk berbagi data, virus, dan keahlian memungkinkan WHO membuat rekomendasi vaksin tepat waktu,” kata Maria.

H3N2 dan B/Victoria berubah

Perubahan penting terlihat jika formula 2027 dibandingkan dengan vaksin belahan bumi selatan 2026.

Pada 2026, WHO menggunakan A/Singapore/GP20238/2024-like untuk H3N2 berbasis telur dan A/Sydney/1359/2024-like untuk kultur sel.

Komponen B/Victoria saat itu menggunakan B/Austria/1359417/2021-like.

Pada formula 2027, WHO menggantinya dengan kelompok A/Darwin untuk H3N2 dan strain baru B/Tokyo atau B/Pennsylvania untuk B/Victoria.

Sebaliknya, H1N1pdm09 tetap menggunakan A/Missouri/11/2025-like.

Formula belahan bumi selatan 2027 juga sama dengan rekomendasi WHO untuk musim 2026–2027 di belahan bumi utara.

WHO kini memusatkan vaksin trivalen pada H1N1pdm09, H3N2, dan B/Victoria.

Antigen B/Yamagata tidak lagi masuk rekomendasi karena garis keturunan itu tidak terdeteksi secara terkonfirmasi sejak Maret 2020.

H1N1, H3N2 dan influenza B tetap beredar

Data surveilans global mendukung pemilihan ketiga komponen tersebut.

WHO mencatat A(H1N1)pdm09, A(H3N2), dan influenza B beredar dalam proporsi berbeda selama Februari hingga Agustus 2026.

Influenza A mendominasi sebagian besar kawasan, sedangkan influenza B lebih banyak ditemukan di sejumlah wilayah.

Pada pekan epidemiologi ke-37, positivity rate influenza global berada sekitar 10 persen dan influenza A masih mendominasi.

Di kawasan Pasifik Barat, A(H3) mencapai 48,4 persen dari deteksi influenza.

A(H1N1)pdm09 mencapai 26,7 persen, sedangkan B/Victoria 23,8 persen.

Pada pekan ke-35, A(H3) tercatat 43,4 persen, B/Victoria 28 persen, dan A(H1N1)pdm09 22,4 persen.

Indonesia juga menemukan tiga kelompok virus

Data Indonesia menunjukkan ketiga kelompok virus itu masih beredar.

Laporan Kementerian Kesehatan per 26 September 2026 mencatat positivity rate influenza naik menjadi 58 persen dari 48 persen pada pekan sebelumnya.

Namun, Kemenkes masih menempatkan aktivitas influenza dalam kategori rendah berdasarkan indikator ILI dan SARI.

Angka 58 persen bukan berarti 58 persen penduduk Indonesia terinfeksi influenza.

Angka tersebut merupakan proporsi spesimen positif dalam sistem surveilans.

Pada pekan ke-37, laboratorium memeriksa 199 spesimen dan menemukan 116 kasus positif influenza.

Kasus itu terdiri atas 105 A(H1N1)pdm09, tujuh A(H3N2), dan empat influenza B/Victoria.

Kemenkes menyebut data beberapa pekan terakhir masih bersifat sementara dan dapat berubah setelah pembaruan laporan.

Indonesia memantau influenza melalui jaringan sentinel ILI dan SARI yang terhubung dengan sistem surveilans nasional dan GISRS WHO.

H3N2 juga mendapat perhatian khusus.

Hingga pekan ke-37 tahun 2026, Kemenkes mencatat 188 kasus H3N2 subclade K sejak 2025 di 20 provinsi.

Temuan terbanyak dilaporkan di DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Kalimantan Selatan.

Direktur Penyakit Menular Kemenkes dr Prima Yosephine sebelumnya menegaskan H3N2 bukan virus baru.

“H3N2 merupakan bagian dari influenza musiman,” kata Prima.

Kemenkes juga menerbitkan Surat Edaran Nomor PM.03.01/C/584/2026 tentang Penanggulangan Influenza A(H3N2) Subclade K pada 4 Februari 2026.

Apa artinya bagi vaksin Indonesia?

Indonesia berada di wilayah tropis sehingga pola influenza tidak selalu mengikuti musim seperti negara beriklim sedang.

WHO menyebut influenza dapat bersirkulasi sepanjang tahun di kawasan tropis.

Karena itu, Indonesia tidak otomatis memilih formula hanya berdasarkan pembagian belahan bumi utara atau selatan.

WHO menganjurkan negara tropis mempertimbangkan surveilans lokal, pola musim, dan karakter antigen virus dalam menentukan formula serta waktu vaksinasi.

Data BPOM menunjukkan Indonesia telah memiliki vaksin influenza berlabel Southern Hemisphere dalam basis registrasi produk biologinya.

BPOM antara lain mencatat SKYCELLFLU Quadrivalent SH dan VAXIGRIP TIV SH.

Namun, rekomendasi WHO pada 25 September 2026 tidak berarti formula 2027 otomatis sudah digunakan di Indonesia.

Produsen masih perlu menyesuaikan antigen, kemudian melalui proses regulasi, produksi, distribusi, dan penyediaan vaksin.

Karena itu, kebijakan Kementerian Kesehatan dan proses registrasi BPOM menjadi penting untuk melihat kesiapan vaksin influenza Indonesia pada 2027.

WHO tetap pantau influenza zoonotik

WHO juga terus memantau virus influenza yang berpindah dari hewan ke manusia.

Virus tersebut menjadi perhatian karena sebagian memiliki potensi pandemi jika mampu menyebar secara efisien antarmanusia.

Pada periode 8 Agustus hingga 6 September 2026, WHO menerima laporan satu infeksi manusia A(H5N1), tiga A(H9N2), dan dua A(H1N2) varian.

Kasus H5N1, H5N6, H9N2, serta virus influenza varian lain juga tercatat sepanjang 2026.

Namun, WHO hingga asesmen terbaru belum melaporkan transmisi antarmanusia yang berkelanjutan dari kejadian zoonotik tersebut.

Karena itu, temuan tersebut merupakan bagian dari kesiapsiagaan pandemi, bukan bukti bahwa pandemi influenza baru sedang berlangsung.

WHO dan GISRS terus mengembangkan candidate vaccine viruses agar produksi vaksin dapat dipercepat jika muncul virus influenza baru yang berisiko bagi manusia.

Bagi Indonesia, surveilans manusia dan hewan, karakterisasi virus, pilihan dan  formula vaksin.

Selain itu kesiapan regulator menjadi bagian penting menghadapi dinamika influenza menuju 2027.